Senin, 27 Oktober 2014

makalah



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar  Belakang
     
      Manusia adalah makhluk  tuhan yang diciptakan sangat sempurna. Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan dengan bentuk sempurna dan mampu berfikir dengan baik serta peka terhadap sekitar dengan sebuah perasaan. Manusia diciptakan dengan otak untuk berfikir dan hati untuk indra perasa. Manusia sebagai homo sapiens (makhluk yang berfikir) selalu berfikir untuk mencapai sesuatu, seperti berfikir untuk memperoleh kebeneran. Manusia pasti mutlak berfikir akan tetapi, jalan fikiran setiap individu selalu berbeda-beda.
      Peradaban umat manusia, dimulai dengan kesadaran akan adanya yang Maha Kuasa yang lalu menumbuhkan ke-beragaman-an, dan diikuti dengan hasrat ingin tahu akan keberadaan dan proses terjadinya segala sesuatu di alam raya yang lalu melahirkan ilmu filsafat, yang merupakan induk yang melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam relatif lebih sederhana daripada ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan alam, ilmu fisika adalah yang paling sederhana, sehinggan paling esat majunya dan mampu membimbing serta menjadi acuan atau paradigma kemajuan ilmu pengetahuan umumnya.
      Aktifitas berfikir, sebagai penalaran manusia mempunyai ciri utama sebagai suatu pola berfikir yang secara luas disebut logika. Aktivitas berfikir adalah berdialog dengan diri sendiri dalam batin dengan manisfestasinya ialah: mempertimbangkan menuangkan, menganalisis, menunjukkan alasan-alasan, membuktikan sesuatu, menggolong-golongkan, membanding-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran, mencari kausalitasnya, membahas secara realitas dan lain-lain.
      Sejak istilah ilmu dan metode ilmiah kedua-duanya dipergunakan untuk berbagai kepentingan. Pengujian terhadap penggunaannya yang berbeda kiranya perlu, yang akan membantu kita mengerti tentang dasar dari prosesnya dan istilah-istilah yang termasuk di dalamnya.

1.2  Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas, adalah:
1.      Apakah definisi logika?
2.      Apa saja macam-macam logika?
3.      Bagaimana fungsi logika?
4.      Apakah hubungan logika dengan ilmu pengetahuan lainnya?
5.      Apakah definisi metode ilmiah?
6.      Bagaimana langkah-langkah metode ilmiah?
7.      Apa saja jenis-jenis metode ilmiah?

1.3  Tujuan
Beberapa tujuan dari makalah ini berdasarkan  rumusan masalah, adalah:
1.      Untuk mengetahui definisi logika.
2.      Untuk mengetahui macam-macam logika.
3.      Untuk mengetahui fungsi logika.
4.      Untuk mengetahui hubungan logika dengan ilmu lainnya.
5.      Untuk mengetahui definisi metode ilmiah.
6.      Untuk mengetahui langkah-langkah metode ilmiah.
7.      Untuk mengetahui jenis-jenis metode ilmiah.

























BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Logika
            Logika berasal dari bahasa Yunani, dari kata sifat ‘Logike’ yang berhubungan dengan kata benda ‘logos’ yang berarti perkataan atau kata sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.
            Secara singkat, logika berarti ilmu, kecakapan atau alat untuk berpikir lurus. Sebagai ilmu, logika disebut sebagai logika Epiteme (Latin: logika scientia) yaitu logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kecakapan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan kedalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Oleh karena itu logika terkait erat dengan hal-hal seperti pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme.

            Logika sebagai ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pernyataan lain yang telah diketahui (Premis) yang nanti akan diturunkan kesimpulan.

            Logika juga merupakan suatu ketrampilan untuk menerapkan hukum-hukum
pemikiran dalam praktek, hal ini yang menyebabkan logika disebut dengan filsafat yang praktis. Dalam proses pemikiran, terjadi pertimbamgan, menguraikan, membandingkan dan menghubungkan pengertian yang satu dengan yang lain. Penyelidikan logika tidak dilakukan dengan sembarang berpikir. Logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan atau ketepatannya. Suatu pemikiran logika akan disebut lurus apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan yang sudah ditetapkan dalam logika. Dari semua hal yang telah dijelaskan tersebut dapat menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pedoman atau pegangan untuk berpikir.
            Logika itu mempelajari syarat-syarat yang harus dicukupi oleh pemekiran yang menurut akal untuk menghasilkan pengetahuan yang benar. Logika itu terbagi atas tiga bagian: teori pembentukan pengertian, teori keputusan dan teori pembuktian. Akan tetapi logika itu tidak mempelajari semua syarat-syarat yang harus dicukupi oleh pemikiran akal, hanya syarat-syarat yang mengenai bentuk pemikiran peraturan-peraturan tentang pembentukan pengertian keputusan dan pembuktian.

2.2 Macam-macam Logika
            Logika adalah satu cabang pengetahuan filsafat yang terbagi atas:
2.2.1 Logika Formal
            Logika formal atau Logika Minor, yang mempelajari asas-asas, kaidah-kaidah, aturan atau hukum-hukum berpikir yang harus ditaati, agar kita berpikir dengan tepat atau benar dan mencapai kebenaran. Jadi bagaimana seharusnya kita berpikir dengan baik sesuai dengan aturan untuk itu. Hukum-hukum logika itu relevan dan penting bagi semua ilmu pengetahuan lainnya, sedangkan bagi pengetahuan filfasat merupakan alat (instrumen) yang harus kita kuasai lebih dahulu, sebelum kita memperdalam pengetahuan filfasat itu.
2.2.2 Logika Materiil
             Logika materiil atau kritik (epistologi); mempersoalkan isi/ materi pengetahuan dan bagaimana caranya mempertanggungjawabkan isi pengetahuan itu. Dengan demikian mempelajari tentang:
a.       Sumber-sumber dan asalnya pengetahuan;
b.      Alat-alat pengetahuan;
c.       Proses terjadinya pengetahuan;
d.      Kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas penjelajahan pengetahuan;
e.       Metode ilmu pengetahuan;
f.       Kebenaran dan kekeliruan dan lain-lain.
Logika materiil inilah sebagai wadah timbulnya:filsafat mengenal (kennisleer) dan filsafat ilmu pengetahuan (wetenscapleer). Logika materiil ini disebut juga logika mayor.




2.3 Fungsi Logika
            Fungsi logika yaitu, sebagai berikut:
a.       Logika menyatakan, menyelaraskan dan memperlgunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat diterapkan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan lainnya, bahkan bagi pengetahuan filsafat merupakan ilmu yang harus dikuasai terlebih dahulu.
b.      Dapat menambah daya/kemampuan berfikir abstrak manusia, dapat melatih dan mengembangkan daya pikir serta serta daya nalar manusia yang bermuara kepad tertib disiplin intelektual manusia.
c.       Dapat membimbing daya pemikiran dan penalaran kita untuk tidak tersesat oleh pola berpikir yang berdasarkan otoritas (kekuasaan).
d.      Dapat mengembangkan daya atau kemampuan berpikir logis dan kritis manusia yang sangat dibutuhkan terutama bagi ilmuwan dan calon ilmuwan (mahasiswa).
e.       Dapat mengembangkan daya atau kemampuan imajinatif, kemampuan kreatif manusia dalam menghadapi fenomena ilmiah dan fenomena hidup dan kehidupan dunia ini.
f.       Dapat mengembangkan daya intuitif manusia yang berdaya nalar dan berpikir kreatif tinggi dengan dukungan latar belakang potensial dan akademis yang baik.
g.      Dapat meningkatkan daya problem solving manusia dalam setiap problema hidup yang dihadapinya.
h.      Menurut aristoteles, tugas utama logika ialah mengakui hubungan yang tepat antara yang umum dengan yang khusus. Oleh karena itu keterangan-keterangan ilmiah berarti menunjukkan prinsip dasar tentang berlakunya uraian yang hanya bersumber dari keterangan-keterangan yang bersifat umum. Itulah pusat logika aristoteles yang bersumber dari prinsip dasar berpikir dari sokrates. 

2.4 Hubungan logika dan ilmu pengetahuan lainnya
            Untuk memperjelas eksistensi logika sebagai ilmu pengetahuan kami mencoba menghubungkannya dengan ilmu pengetahuan yang mempermasalahkan  aktivitas pikiran manusia, yaitu ilmu psikologi. Sedangkan perbedaan-perbedaannya adalah sebagai berikut:
a.       Logika hanya mempersoalkan aktifitas berpikir manusia sepanjang memenuhi aturan-aturan atau hukum-hukum berpikir valid/sahih/benar agar supaya memperoleh ketetapan atau kebenaran.
Psikologi mempersoalkan aktifitas berpikir manusia, sentimen-sentimennya, emosinya dan kemauannya.
b.      Logika mempelajari aktifitas berpikir manusia dengan memberikan penilaian benar atau salah. Oleh karena itu logika disebut juga sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif.
Psikologi sebaliknya yaitu menyelidiki aktivitas berpikir manusia sebagai proses kenyataan dalam individu yang konkrit.
c.       Logika disebut juga ilmu pengetahuan yang bersifat teoretis dan praktis.
Psikologi disebut sebagai ilmu pengetahuan bersifat teoretis saja.
            Dapat kami simpulkan bahwa walaupun logika  dan psikologi merupakan lapangan atau bidang studi yang berbeda, pengetahuan tentang psikologi sangatlah berguna dalam mengkaji bidang studi logika. Sebaliknya asas-asas kaidah-kaidah atau hukum-hukum logika berlaku dan sangat penting bagi ilmu lainnya.

2.5 Definisi Metode Ilmiah
                Metode ilmiah atau proses ilmiah dalam (bahasa Inggris: scientific method) merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
                Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. Pengukuran dalam karya ilmiah biasanya juga disertai dengan estimasi ketidakpastian hasil pengukuran tersebut. Ketidakpastian tersebut sering diestimasikan dengan melakukan pengukuran berulang atas kuantitas yang diukur.

2.6 Langkah-langkah Metode Ilmiah
            Metode ilmiah dapat dideskripsikan dalam langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Penemuan atau penentuan masalah
            Di sini secara sadar kita menetapkan masalah yang akan kita telaah dengan ruang lingkup dan batas-batasnya. Ruang lingkup permasalahan ini harus jelas. Demikian juga batas-batasnya, sebab tanpa kejelasan ini kita akan mengalami kesukaran dalam melangkah kepada kegiatan berikutnya, yakni perumusan kerangka masalah.
b.      Perumusan kerangka masalah
            Merupakan usaha untuk  mendeskripsikan masalah dengan lebih jelas. Pada langkah ini kita mengidentifikasikan faktor-faktor yang melibatkan dalam masalah tersebut. Faktor-faktor tersebut membentuk suatu kerangka masalah yang berwujud gejala yang sedang kita telaah.
c.       Pengajuan hipotesis
            Merupakan usaha kita untuk memberikan penjelasan sementara mengenai hubungan sebab-akibat yang mengikat faktor-faktor yang membentuk kerangka masalah tersebut. Hipotesis ini pada hakikatnya merupakan hasil dari penalaran induktif, dengan mempergunakan pengetahuan yang sudah kita ketahui kebenaran.
d.      Deduksi dari hipotesis
            Merupakan langkah perantara dalam usaha kita untuk menguji hipotesis yang diajukan. Secara deduktif, kita menjabarkan konsekuinnya secara empiris. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan identifikasi fakta-fakta apa saja yang dapat kita lihat dalam dunia fisik yang nyata, dalam hubungannya dengan hipotesis yang kita ajukan.
e.       Pembuktian hipotesis
            Merupakan usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta sebagaimana telah disebutkan diatas. Kalau fakta-fakta tersebut maemang ada dalam dunia empiris kita, maka dinyatakan bahwa hipotesis itu telah terbukti, sebab didukung oleh fakta-fakta yang nyata. Jika hipotesis itu tidak terbukti maka hipotesis itu ditolak kebenarannya dan kita kembali mengajukan hipotesis yang lain, sampai kita menemukan hipotesis tertentu yang didukung oleh fakta.
f.       penerimaan hipotesis menjadi teori ilmiah
            hipotesis yang telah terbukti kebenarannya merupakan pengetahuan baru dan diterima sebagai bagian dari ilmu. Atau dengan kata lain, hipotesis tersebut sekarang dapat kita anggap sebagai (bagian baru) suatu teori ilmiah. Secara luas, teori ilmiah dapat diartikan sebagai suatu penjelasan teoretis mengenai suatu gejala tertentu. Pengetahuan ini dapat kita gunakan untuk penelaahan selanjutnya, yakni sebagai premis dalam usaha kita untuk menjelaskan berbagai gejala yang lainnya. Dengan demikian, maka proses kegiatan ilmiah mulai berputar lagi dalam suatu daur, sebagaimana yang telah ditempuh dalam rangka mendapatkan teori ilmiah tersebut.
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Meskipun langkah-langkah tersebut tersusun dalam urusan yang teratur, di mana secara konseptual langkah yang satu merupakan persiapan bagi langkah yang lainnya, namun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan.

2.7 Jenis-jenis Metode Ilmiah
1)      Observasi
            Beberapa ilmu seperti astronomi dan botani telah dikembangkan secara cermat dengan metode observasi. Di dalam metode observasi melingkupi pengamatan indriawi (sense perception) seperti: melihat, meraba, mendengar, menyentuh, membawa sesuatu, juga di dalamnya termasuk bahwa kita sadar, berada dalam situasi yang bermakna dengan berbagai fakta yang saling berhubungan.
            Observasi yang cermat sangat diperlukan di dalam penelitian ilmiah. Ada beberapa kondisi yang sangat penting untuk diketahui dalam melakukan observasi yaitu:
a.       Indra yang normal dan sehat
      Semua indra diperlukan untuk/dalam melakukan observasi seperti: kejelasan penglihatan dan ketajaman pendengaran sangat diperlukan.
b.      Kematangan mental
      Dalam hal ini bukan hanya kemampuan berpikir tetapi juga benar-benar akrab/paham tentang instrumen intelektual yang sangat diperlukan seperti istilah-istilah, konsep-konsep dan kemampuan menggunakan simbol-simbol secara umum (ingeneral)
c.       Alat-alat bantu fisik
      Seperti teleskop, mikroskop, dan alat-alat lain, untuk mengukur waktu dengan tepat, luas, berat dan hal-hal lain yang diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan (hasil) yang cermat.
d.      Cara mengatur posisi, tempat, atau kondisi, yang memungkinkan observasi dapat dilakukan dengan cermat
      Seorang peneliti harus memperhatikan faktor waktu, tempat, gerakan, suhu, cahaya, keadaan cuaca, dan gangguan-gangguan suara. Kesalahan atau kegagalan observas mungkin disebabkan kerusakan atau adanya gangguan pada hal-hal yang telah disebutkan.
e.       Pengetahuan lapangan
      Mengenal lapangan studi, sejarahnya, dan saling hubungan dengan lapangan studi serta pengalaman lainnya.
2)      Trial and Error
            Teknik ini dipergunakan oleh ahli psikology yang diterapkan pada penelitian tentang hewan dan manusia. Metode trial and error cenderug disebut “ learning by doing” daripada disebut “learning by thinking”, semua itu dikemukakan dalam bentuk yang sederhana yang mengandung refleksi. Rlefelksi thinking (berfikir reflektif) disebut juga “ trial and error by ideas”
3)      Metode Eksperimen
            Kegiatan eksperimen adalah berdasarkan pada prinsip metode penemuan sebab akibat dan pengujian hipotesis. Dalam eksperimen, di dalamnya termasuk masalah “manipulasi” dan pengawasan (kontrol) sekalipun observasi (pengamatan) dan trial and error telah banyak digunakan secara luas tetapi keduanya terbatas.
4)      Metode Statistik
            Istilah statistik berarti pengetahuan tentang mengumpulkan, menganalisis, dan menggolongkan bilangan data sebagai dasar induksi. Metode statistik telah ada sejak lama yaitu, untuk membantu pemimpin dan penguasa mengumpulkan data tentang penduduk, kelakuan, kematian, kesehatan, perpajakan, dan lain sebagainya.
5)      Metode Sampling (pengambilan sampel)
            Terjadinya sampling, yaitu apabila kita mengambil beberapa anggota atau bilangan tertentu dari suatu kelas atau kelompok sebagai wakil dari keseluruhan kelompok tersebut dapat diwakili secara kesuluruhan atau tidak. Seandainya bahan yang akan kita uji itu menunjukkan kesamaan jenisnya melalui sebuah sampel dapatlah diperoleh hasil dengan ketetapan yang tinggi.
6)      Metode Berfikir Reflective
            Metode yang telah dikemukakan didepan sebenarnya tidak berpisah dan bertentangan, melainkan saling berhubungan dan saling isi mengisi antara satu dengan yang lainnya. Kenyataannya kita tidak mungkin mempergunakan metode-metode secara terpisah satu sama lainnya.































BAB III

PENUTUP



3.1 Kesimpulan
           
Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa. Logika itu mempelajari syarat-syarat yang harus dicukupi oleh pemekiran yang menurut akal untuk menghasilkan pengetahuan yang benar. Logika itu terbagi atas tiga bagian: teori pembentukan pengertian, teori keputusan dan teori pembuktian.
Macam-macam logika yaitu Logika formal atau Logika Minor, yang mempelajari asas-asas, kaidah-kaidah, aturan atau hukum-hukum berpikir yang harus ditaati, agar kita berpikir dengan tepat atau benar dan mencapai kebenaran dan Logika materiil atau kritik (epistologi); mempersoalkan isi/ materi pengetahuan dan bagaimana caranya mempertanggungjawabkan isi pengetahuan itu.
Fungsi logika yang paling utama menyatakan, menyelaraskan dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat diterapkan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan lainnya. Hubungan logika dengan ilmu pengetahuan lainnya adalah asas-asas kaidah-kaidah atau hukum-hukum logika berlaku dan sangat penting bagi ilmu lainnya.
        Metode ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Langkah-langkah metode ilmiah:Penemuan atau penentuan masalah, Perumusan kerangka masalah, Pengajuan hipotesis, Deduksi dari hipotesis, Pembuktian hipotesis, Penerimaan hipotesis menjadi teori ilmiah.

3.2  kritik dan saran
        Buku filfasat yang selama ini kita kita baca dan pelajari masih sangat kurang memahami dan isinya pun kurang lengkap, serta terperinci. Filsafat sangat dipentingkan dalam kehidupan sehari-hari terutama logika dalam berilmu dan metode ilmiah, agar bisa mencapai apa kebenaran/kesahihan/kevalidan yang kita inginkan. Maka dari itu, kami berharap kepada semua pihak agar memperhatikan filsafat dalam berlogika maupun metode-metode khususnya metode ilmiah.