Rabu, 02 Desember 2015

Tasawuf

Kata  Pengantar
Syukur  Alhamdulillah kami haturkan kepada Allah SWT  yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Pemikiran-Pemikiran Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan untuk memenuhi tugas mata kuliah Tasawuf yang dibimbing oleh bapak Dr. H. Ahmad Barizi, MA.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
1.      Terimakasih kepada Bapak Dr. H. Ahmad Barizi, MA selaku dosen pengampu mata kuliah Tasawuf.
2.      Terimakasih kepada orang tua kami yang selalu mendoakan dan memotivasi kami.
3.      Terimakasih kepada seluruh anggota kelompok kami atas kerjasama dan ketekunan dalam mengerjakan tugas ini.
Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari sempurna oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi kami khusunya dan bagi para pembaca umumnya. Amiin.
.
Malang, 20 Oktober 2015

Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam Islam terdapat suatu ajaran mistik yang dinamakan dengan ajaran tasawuf, ajaran ini diperuntukkan  bagi  hambanya  untuk  dapat  mendekatan  diri  kepada  Allah  dengan memusatkan  seluruh  perhatiannya  dengan  cara  pembersihan  aspek  bathiniahnya,  karena seorang hamba baru dapat berada dekat dengan Allah apabila bathinnya telah bersih dan suci dari segala sifat dan perbuatan tercela yang dimurkai Allah. Ajaran tasawuf sangatlah menarik perhatian bagi para kalangan ilmuan, bukan hanya dari kalangan ilmuan Islam saja, namun juga sudah menarik perhatian dari para kalangan orientalis untuk menyelidiki dan mendalami inti dari ajaran tasawuf itu sendiri. Begitu pula dengan pemikiran tasawuf KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Kedua tokoh tersebut di Indonesia sangat berperan penting dan paling banyak pengikutnya. Sehingga karena itulah menjadi alasan sangat penting untuk mempelajarinya.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah Pemikiran Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari?
2.      Bagaimanakah Pemikiran Tasawuf KH. Ahmad Dahlan?

1.3  Tujuan
1.      Untuk Mengetahui Pemikiran Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari
2.      Untuk Mengetahui Pemikiran Tasawuf KH. Ahmad Dahlan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pemikiran Tasawuf Menurut KH.Hasyim Asy’ari
KH.Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875. Ayahnya bernama kiai Asyari, pemimpin pesantren keras yang berada di sebelah Jombang, dan ibunya bernama Halimah. KH.Hasyim Asyari adalah seorang ulama’ pendiri nahdlatul ulama’ (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Beliau juga merupakan pendiri dari pondok pesantren Tebuireng, jawa timur dan juga dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dan pesantren ,ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan pidato.
Kiprah KH.Hasyim Asyari juga tidak diragukan lagi. Beliau pantas disebut sebagai tokoh pelaku sejarah seperti yang dimaksudkan oleh Thomas Charley dan Soekarno. Selain itu, beliau berhasil mewarnai tasawuf dengan citra yang lebih positif dalam menghadapi aliran-aliran lain di nusantara.  Beliau juga berhasil menghimpun kekuatan ulama’ dan kyai dalam satu wadah Nahdlatul Ulama’ yang didirikannya.  Dalam anggaran dasar NU isebutkan bahwa aspek tasawuf mengikuti antara lain Imam Al Junaid Al Baghdadi dan Imam Al-Ghazali, serta imam-imam yang lainnya.
Syeikh hasyim Asyari, pendiri NU, menjelaskan tentang hakikat tasawuf serta penyimpangannya dalam dua kitab, yaitu, Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Al-Dhurar al Muntatsiroh fi al masail al-Tis a Asyara. Dalam dunia tasawuf juga dalam ilmu lain dalam kenyataannya memang terdapat cendekiawan palsu yang membelokkan jalan dari aturan syariah. Dalam bidang tasawwuf ini menurut syeh hasyim juga terdapat orang yang merusak konsep tasawuf. Peringatan adanya orang-orang bodoh yang mengaku bertasawwuf disebutkan oleh syaih Hasyim  dalam Risalah Ahlusunnah Waljama’ah. Ciri-ciri mereka disebutkan menganut paham ibahiyyah (aliran menggugurkan kewajiban syariat untuk maqom tertentu), reinkarnasi, manunggaling kawulo.
Kewajiban syariat bagi penganut tariqoh sufi dan para sufi tetaplah wajib dijalankan, dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Syekh Hasyim menolak jika kewajiban syariat nabi Muhammad terpakai oleh orang tertentu dan terbatas oleh waktu tertentu. Orang yang meyakini gugurnya syariat pada orang dan waktu tertentu dikatakan sebagai orang yang mengatakan dan mendustakan Al Quran yang agung. Dengan pemahaman ini, tidak ada perbedaan antara seorang murid dengan mursyid, antara wali dan yang bukan wali, seluruhnya menanggung kewajiban syariat.
Pandangan syekh hasyim tersebut sejalan dengan syeikh al Qusyairi, ulama sufi tersohor dari khurasan. Dalam kitabnya al-Risalah al-Qusyairiyah, syekh Al Qusyairi  menerangkan karakteristik ahli tasawuf. Dalam anggaran dasar NU, bahwa dalam aspek tasawwuf NU mengikuti syeikh Al Junaid al Baghdadi dan iman Al-Ghazali. Pemikiran sufi syekh Hasyim banyak di pengaruhi oleh kedua sufi tersebut.
Corak yang menonjol dari pemikiran tasawwuf yseih hasim adalah membangun citra positif tentang sufi daam membangun alitan-aliran sesat diluar Ahlusunnah Wal Jama’ah. Secara geologis, tasawwuf hasyim asyari berasal dari ajaran syeikh nawawi al bantani.dan syeikh Khatib Sambas adalah dau ulama’ dari indonesia yang mengajar di Mekkah. Keduanya mewarisi tasawuf imam Al Ghazali.
Syeikh Al Juanid yang dikenal sebagai guru besar sufi dari Baghdad sangat ketat mengjarkan syariat dalam murid-muridnya. Menurutnya, orang yang sampai pada tingkat tertentu kemudian meninggal aktivitas ibadah yang diwajibkan oleh Alloh SWT itu lebih buruk dari orang-orang yang mencuri dan berzina. Wali yang meninggalkan kewajiban syariat bukanlah wali tapi jahil.
Imam Al Ghazali mengkritik bahwa seorang sufi yang mengkuti paradigma asing, yang bukan paradigma sunni, tidak pantas disebut ahli sufi.
Corak pemikiran seperti itu digunakan oleh Hasyim Asyari. Orang yang mengaku dirinya wali namun dalam kesaksiannya tidak mengikuti nabi Muhammad, maka orang tersebut adalah pendusta. Beliau mengatakan: barang siapa yang mengaku dirinya wali tanpa kesaksian bahwa dia mengilkuti syariat nabi Muhammad, maka pengakuan tersebut dusta atau bohong.
Syeikh Hasyim Asyari berpenapat bahwa seorang wali tidak akan memarken dirinya sebagai seorang wali. Justru seorang sufi tidak akan menyukai populartas. Ia mengatakan : jenis fitnah itu banyak sekali. Diantara banyak yang merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang sebagai guru tarekat dan wal. Bahkan sampai mengaku bahwa dirinya wali quhtb dan imam mahdi. Padahal mereka bukan ahli syare’at.
Sedangkan kaum muslimin banyak tertipu mengikuti ajakan yang bermacam-macam tanpa memikirkan apaka ajakan itu haq atau batil, benar atau salah, tidak mengetahui norma-norma yang disebutkan dalam kitab fiqih. Dikatakan bahwa karakter seorang wali justru menyembunyikan kewaliannya dan mengedepankan tawaddu’. Ia mengatakan: wali itu tidak membuka jalan popularitas dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliannya. Menurut syekh Hasyim, seorang wali adalah seorang yang dipelihara oleh Allah dari dosa besar, terjerumus oleh hawa nafsunya sekalipun hanya sekejap, bila melakukan dosa ia bersegera memohon ampun kepada Alloh, inilah tiga ciri khas seorang wali. Atas dasar ini, syekh Hasyim berpendapat bahwa syarat menjadi wali adalah terjaga dari kemaksiatan. Dan sesorang tidak dapat disebut wali jika ia meremehkan syariat, mengejek Al-quran, membela kesesatan. Sifat pokok kewalian disebut oleh syekh Hasyim dengan istiqamatu ‘ala adabi. Seseorang yang mengaku secara dusta bahwa dirinya wali, sesungguhnya orang tersebut tertipu oleh bujuk rayu setan.Ia sangat selektif dan ketat menerapkan syariat dalam menilai kewalian seseorang. Tauhid dan syariat adalah parameter utama. Dalam kisahnya, beliau tidak mudah melabelkan gelar wali tersebut dhahirnya tidak terlihat melakukan dosa terus menerus.
Dari sini tampak jelas bahwa seorang sufi dalam pandangan syekh Hasyim adalah orang yang benar-benar menjaga adab. Adab kepada Allah, Rasululloh dan hamba manusia dalam bentuk praktik syariah secara total. Dan membersihkan akidahnya dari aliran-aliran yang menyimpang dari Ahlusunnah wal Jama’ah. Kritik Syekh Hasyim Asy’ari untuk membentengi islam dan umatnya dari pengaruh-pengaruh luar yang dikhawatirkan menyimpang dari ajaran syariat islam.
Bagi syekh Hasyim,  syarat menjadi seorang murid tarekat saja sulit, apalagi menjadi seorang mursyid. Hal ini bisa dilihat dari persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang murid hakiki. Persyaratan tersebut adalah:
1.      Niat baik. Sebelum mengikuti jalan kesufian seseorang harus memiliki niat yang lurus dan ibadah yang benar.
2.      Pembimbing yang benar. Disini murid harus mengetahui kemampuan khusus mursyidnya yang akan mengantarkannya kepada al Kadrah ilahiyyah.
3.      Tulus rela mengikuti jalan sufi. Mereka yang mengikuti jalan sufi harus melaksanakan seluruh etika yang dianjurkan oleh agama.
4.      Mejaga kesucian jiwa. Untuk menjaga kesucian jiwa tersebut, seseorang harus senantiasa mengikuti sunnah Nabi SAW.
5.      Menjaga kehormatan. Murid harus mengikuti mursyid dan saudara seagamanya, baik di dunia maupun di akhirat, tabah menghadapi sikap permusuhan dari orang lain, menghormati mereka yang lebih tinggi derajat kesufiannya dan mencintai yang lebih rendah.
6.      Kemauan yang baik. Murid harus menjadi pelayan yang baik bagi Allah, bagi mursyid syekh, dan sesama muslim dengan jalan melaksanakan yang diperintahkan Allah dan menjauhi yang dilarang Allah.
7.      Senantiasa meningkatkan semangat raf’alhimmah. Untuk menjangkau makrifat yang sesungguhnya, murid harus senantiasa menjaga usahanya dengan sungguh-sungguh. Sebab tanpa usaha yang serius dan kontinu, ma’rifat mustahil di capai.
8.      Jiwa yang agung. Murid harus berjiwa agung mengingat apa yang ia cari adalah ma’rifat al khaskhasah tentang Allah, demi kebaikan jiwanya bukan untuk dunia fana.
Dalam kitab Tamyiz Al-Haq Min Al-Bathi’ ini, dikisahkan bahwa wasiat syekh Hasyim muncul dari sebuah sikap dan respon syekh Hasyim atas pernyataan kyai sukowangi Rebah Kendangan Pare Kediri.

2.2 Pemikiran Tasawuf KH. Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.
Syehk Sholih Darat adalah guru sejati Muhammad Darwis. Selama dua tahun Muhamamd Darwis nyantri ilmu agama kepada Syekh Sholih Darat di Semarang. Selama itu pula, berbagai ilmu agama diajarkan, mulai fikih syafii, hadis, tafsir, dan tasawuf. Sebelum Muhammad Darwis berangkat ke tanah suci Makkah, sudah terbiasa dengan tradisi tahlilan, dibaan, sholawatan. Tidak aneh, jika Muhamamd Darwis  melakukannya, karena memang beliau adalah keturunan Maulana Ishak yang ahli tasawuf, serta  membangun budaya Tahlil.
Sebelum beragkat haji, malam harinya mengadakan tahlinan dan membaca berjani (dibaan), sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, sekaligus meminta doa kepada saudara-saudara dan tetangga. Bukan berarti, Muhammad Darwis tersesat dan ahli bidah (mengada-ngada) dengan melakukan tahlilan, dibaan (Al-Barjanji), dan maulidan.
Seusai menunaikan ritual Ibadah haji, Muhammad Darwis dirubah namanya oleh Sayed Abu Bakar Shata, sekaligus mendapatkan sertifikat. Sejak itulah, nama Muhammad Darwis berubah menjadi Ahmad Dahlan. Selama di Makkah, Muhammad Darwis yang namanya berubah menjadi Ahmad Dahlan belajar ilmu qoraat, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, dan ilmu falak. Bukan berarti KH Ahmad Dahlan tersesat (dolalah) jika belajar ilmu tasawuf (Sufi),  apalagi dihakimi masuk neraka.
Sekilas tentang Sayed Abu Bakar Shata. Tokoh yang nama sebenarnya Abu Bakar bin Muhammad Zainal Abidin Syatha ini lahir di Makkah tahun 1266 H/1849 M. Ia berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya. Sayyid Abu Bakar Syatha merupakan seorang ulama’ Syafi’i, mengajar di Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah. Hampir setiap santri yang datang dari nusantara selalu mengambil ilmu dari beliau, termasuk KH Hasyim Asy’ari pendiri NU.
KH Ahmad Dahlan benar-benar menjadi santri sejati Sayyid Abu Bakar Shata.  Wajar, jika beliau selalu menjalankan madhab Syafii dalam ibadahnya sehar-hari, seperti; qunut subuh, tarawih 20 rakaat, maulidan tahlilan adalah satu di antara tradisi yang sudah dilakukan sebelum  KH Ahmad Dahlan menunaikan Ibadah haji.
Guru-guru KH Ahmad Dahlan cukup banyak, seperti; KH Dahlan Semarang, KH Saleh Darat Semarang, Kyai Termas, Syekh Djamil Dajmbek. Ketika di Makkah, beliau juga rajin membaca buku-buku yang ditulis oleh tokoh pembaharuan, seperti; Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, Kitab Kanzu Al-Ulum untuk memperkaya pengetahuannya. Kendati beliau telah banyak membaca buku-buku para pemikir islam modern, beliau tetap teguh di dalam menjalankan tata cara Ibadanya sesuai dengan Madhab Syafii. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau mencerminkan seorang zuhud dan sufi sejati.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Yogjakarta mengenai Nahwu, Fiqh, dan Tafsir, ia pergi ke Mekkah tahun 1890. Di Mekkah ia tinggal selama satu tahun. Salah seorang gurunya adalah Shaykh Ahmad Khatib (Imam dari madhhab Shafi'i di Masjid al-Haram. Pada tahun 1903 ia mengunjungi kembali Tanah Suci dan ia kemudian menetap di sana selama dua tahun.
Sekembalinya ke tanah air, ia mulai berjuang menegakkan Islam. Ia mulai mengintrodusir cita-citanya itu dengan mengubah arah orang salat kepada kiblat yang sebenarnya (sebelumnya arah salat biasanya ke Barat). Pada waktu yang bersamaan ia mulai pula mengorganisir kawan-kawannya di daerah Kauman-Yogjakarta untuk melakukan pekerjaan sukarela dalam memperbaiki kondisi higenis daerahnya dengan memperbaiki dan membersihkan jalan-jalan dan parit-parit.
Dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya, ia pernah mendapatkan tantangan dari ulama setempat, yaitu Kyai Haji Mohammad Khalil yang memerintahkan untuk merobohkan langgar yang didirikannya sesuai dengan arah kiblat yang sebenarnya itu. Saat itu ia hampir putus asa, tetapi kemudian keluarga dan para simpatisannya membantu membangunkan langgar untuknya dengan jaminan ia dapat mengajarkan dan mempraktikkan agama menurut keyakinannya. Selanjutnya ia menggantikan posisi ayahnya sebagai khatib di masjid Sultan. Saat itu Dahlan telah diakui sebagai seorang ulama oleh kyai-kyai lain. Karena kelurusannya dan kesungguhannya dalam bekerja, ia mendapatkan julukan ketib amin (khatib yang diandalkan). Tindakan penghulu untuk menghancurkan langgar yang dibuat oleh Kyai Dahlan tadi, mungkin disebabkan oleh dua pertimbangan, yaitu cemburu ataupun kepercayaan tradisional bahwa hanya sebuah masjid yang bisa dilakukan salat Jumat dalam satu daerah tertentu. Ataupun alasan kedua-duanya.
Pada tahun 1909, Dahlan masuk Budi Utomo dengan tujuan memberikan pelajaran agama kepada anggota-anggotanya. Dengan jalan ini ia berharap akan dapat memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah, oleh sebab anggota-anggota Budi Utomo itu pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah dan juga di kantor-kantor pemerintah. Dia pun mempunyai harapan agar guru-guru sekolah yang diajarnya itu sendiri dapat meneruskan isi pelajarannya kepada murid-murid mereka pula. Pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan keperluan anggota-anggota Budi Utomo tadi. Oleh karena itu mereka kemudian menganjurkan kepada Dahlan agar membuka sebuah sekolah sendiri, yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib kebanyakan pesantren tradisional yang terpaksa ditutup lantaran kyainya meninggal.

Dari gagasan tersebut maka didirikanlah Muhammadiyah pada tahun 1912 di Yogjakarta. Organisasi ini mempunyai cita-cita: "menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada penduduk bumiputera dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya". Sambil memimpin Muhammadiyah, Dahlan tetap aktif bertabligh, aktif pula mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah, aktif dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti salat, dan dalam memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan mengumpulkan dana dan pakaian untuk mereka. Dari kepedulian sosial yang di contohkan oleh Dahlan ini kemudian Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga sosial seperti Panti Asuhan, Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) dan lembaga-lembaga pendidikan.
KH. Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah hanya dalam tempo 10 tahun 3 bulan, tetapi hampir satu abad kemudian, gagasan, karya, dan amal Dahlan telah mampu mengubah pola kehidupan keagamaan pemeluk Islam di negeri ini menjadi lebih fungsional. Pengelolaan ibadah seperti zakat, haji, salat, puasa, korban bagi tujuan-tujuan sosial, selain sebagai kewajiban ritual, telah menjadi tradisi umat, bukan hanya anggota Muhammadiyah. Kini, hampir tidak ada pemeluk Islam di negeri ini yang tidak berminat menyekolahkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan moderen seperti sekolah atau madrasah hingga pendidikan tinggi. Dulu, khutbah Jum'at di masjid-masjid yang tidak disampaikan dalam bahasa Arab dianggap tidak sah, kini hampir di semua pelosok negeri ini khutbah-khutbah dapat disampaikan dengan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah setempat.
Pesan-Pesan Spiritual KH. Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan memang tidak banyak meninggalkan karya tulis, kecuali dua buah dokumen yang disampaikan dalam kongres Islam ke-1 di Cirebon pada tahun 1921 M dan transkrip pidato terakhirnya dalam Kongres Muhammadiyah bulan Desember tahun 1922 M, beberapa bulan sebelum wafatnya, pada bulan Februari 1923 M. Dari dua dokumen tersebut dapat diketahui bagaimana gagasan dan pemikiran Dahlan tentang Islam, ilmu pengetahuan, masyarakat dan pendidikan. Dari kedua dokumen itu pula dapat ditemukan gagasan sufistik dalam rumusan kalimat yang bernuansa batiniah seperti Islam sejati , akal suci , hati suci , dan Qur'an suci.
Dalam prasaran Muhammadiyah pada Kongres Islam ke-1 tahun 1921 di Cirebon dinyatakan bahwa: "Jalan yang betul itu ialah Islam sejati. Islam sejati itu ada dua bagiannya, yakni lahir dan batin. …Persatuan Islam itulah yang harus kita tuju, supaya orang Islam dapat hidup secara Islam, menurut rancangan yang hukum-hukumnya sudah sempurna terpaku dalam al-Qur'an suci. ….bahwa hidup orang Islam harus berasaskan Qur'an….Beribadah kepada Allah, tiada dengan perantaraan antara manusia dengan Allah".
Pemikiran KH.Ahmad Dahlan juga bisa dilihat dari kutipan ringkas berikut ini: "Sebagian besar pemimpin belum menaruh perhatian kepada kebaikan dan kesejahteraan manusia, akan tetapi baru memperhatikan kaum dan golongannya sendiri bahkan badannya sendiri. Baginya, pemimpin yang bersedia berjuang bagi kesejahteraan seluruh manusia, tidak terbatas kelompoknya sendiri ialah…orang-orang yang benar-benar menemukan hal-hal yang baik bagi sebagian besar orang serta mereka berpikir secara dalam dan luas…dalam menentukan baik-buruk, betul-salah, hanyalah hukum yang sah dan hati yang suci….selain hati suci, ia juga menyebut fungsi akal pikiran yang suci. Yakni menurutnya, pembuatan keputusan yang bukan keputusan yang dibuat sendiri. Dalam hal ini ia berpendapat, suatu pengetahuan hanya akan bermanfaat jika direalisasi sesuai keadaan, dan bahaya besar akan dihadapi jika setiap persoalan tidak dipecahkan dengan hati yang suci atau pikiran yang suci.(baca Mulkhan, 1990).
Dalam Kongres 1922, KH.Ahmad Dahlan menyatakan: "Untuk memimpin kehidupan seharusnya mempergunakan satu metode kepemimpinan, yaitu al-Qur'an….seluruh manusia harus bersatu hati mufakat yang disebabkan karena segala pembicaraan memakai hukum yang sah dan hati yang suci…untuk mencapai maksud dan tujuan harus dengan mempergunakan akal yang sehat….tidak ada gunanya pangkat yang tinggi kecuali dengan hati yang suci.
KH.Ahmad Dahlan dalam Sidang Tahunan 1922, menyatakan bahwa kehidupan dunia-akhirat harus dicapai dengan pengetahuan yang benar dari hasil penelitian. Kecerdasan ialah kemampuan mengatasi penderitaan disertai selalu ingat kepada Tuhan. Dalam Kongres Islam di Cirebon, Dahlan menyatakan, karena persamaan kedudukan, tidak perlu perantara dalam ibadah. Untuk itu, manusia harus bekerja sama dengan semua pihak, walaupun berbeda agama. Perubahan kehidupan manusia dan alam bersifat kausal seperti temuan penelitian.
Bagi Dahlan, kesalehan ialah pencarian kebenaran tanpa final, terbuka berdialog dengan semua pihak yang berbeda. Keputusan adalah benar jika: (a) paling kecil pertentangannya, (b) mendengar, membanding dan menimbang segala pendapat, (c) sesuai akal dan hati suci. Keikhlasan adalah dasar hidup sosial dan mencapai tujuan berdasarkan teori dan ketrampilan. Kebahagiaan adalah sikap ikhlas, tidak lupa kematian, dan ilmu sebagai kunci kemajuan dan kebahagiaan bersama.
Beberapa komentar dari para peneliti tentang gagasan dan pemikiran Dahlan dari kedua dokumen tersebut menyimpulkan, di antaranya Yunus Salam mengatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan memandang ketaatan syari'at sebagai hasil ketaatan batiniah. Farid Ma'ruf bahkan menyatakan bahwa keagamaan Kyai Ahmad Dahlan seperti shufinya Imam al-Ghazali. Apa yang dikemukakan oleh Ma'ruf bahwa keagamaan Dahlan sama dengan shufinya Imam al-Ghazali ini barangkali yang dimaksud adalah bahwa Dahlan sangat memperhatikan aspek batiniah di samping aspek syari'at sebagaimana al-Ghazali juga mementingkan aspek syari'at di samping tarekat.
Jainuri, dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa pandangan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu sebagai relativis dan pluralis yang meletakkan hati suci jauh lebih penting dari lembaga formal. Organisasi bagi Dahlan adalah instrumen pengembangan kesalehan hati suci itu. (baca Jainuri,1997)
Jika dicermati lebih dalam, apa yang digagas oleh KH.Ahmad Dahlan dalam pidato-pidatonya itu, sebenarnya tampak jelas kesadaran sufistiknya. Istilah Islam sejati, akal suci, hati suci, dan Qur'an suci adalah gambaran tentang pentingnya aspek batin dalam mengamalkan agama. Memang tidak banyak atau hampir tidak ada istilah-istilah teknis dalam tradisi shufi yang muncul dari seluruh pemikirannya. Beberapa kandungan pidato yang pernah disampaikan Dahlan dapat disari sebagai berikut: (1). Mengamalkan ajaran Islam tidak cukup dari aspek shari'at (eksoteris)nya saja, akan tetapi harus juga memperhatikan aspek batin (esoteris)nya; (2). Setiap amalan dan segala bentuk perjuangan harus dilandasi hati yang suci, bersih (ikhlas) semata karena Allah Swt; (3). Dalam hidup bermasyarakat tidak boleh mementingkan diri sendiri, tetapi harus mengutamakan orang lain (itsar); (4). Setiap memegang jabatan atau kekuasaan harus didasari dan disadari sebagai amanah dari Allah, karena tidak ada artinya memegang jabatan yang tinggi jika tidak dilandasi hati yang suci, untuk mendapatkan ridhaNya; (5). Setiap menghadapi kesulitan hidup harus selalu ingat kepada Allah (dhikr), dan dengan pikiran yang cerdas; (6). Dalam usaha meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia jangan sampai lupa bahwa hidup di dunia ini sifatnya sementara, masih ada kehidupan yang kekal, yaitu di akhirat; (7). Dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), tidak perlu pakai perantara, karena di hadapan Allah semua manusia itu sama, dan Allah sudah menyatakan bahwa Allah itu sangat dekat (qarib) dengan hambaNya.
Dari tujuh hal yang disampaikan oleh KH.Ahmad Dahlan tersebut, agaknya selaras dengan apa yang telah disampaikan oleh para tokoh shufi seperti al-Junaid yang mengatakan bahwa tasawuf artinya engkau berada semata-mata bersama Allah tanpa keterkaitan dengan apa pun; kemudian kata al-Mishri bahwa orang-orang shufi adalah mereka yang mengutamakan Allah di atas segala-galanya; kata al-Suyuti bahwa shufi itu adalah seseorang yang terus-menerus melakukan penyucian hati dalam berhubungan dengan Allah dan berbuat baik kepada makhluk; dan kata al-Ghazali bahwa shufi itu adalah orang yang selalu berusaha membersihkan diri dari segala kotoran melalui penyucian hati dengan tujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt .
KH.Ahmad Dahlan menyatakan bahwa Islam yang sejati itu menganduang dua hal, yaitu unsur lahir dan unsur batin. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ulama Muhammadiyah tidak hanya mementingkan aspek eksoteris (yang biasanya dikaji dalam wilayah ilmu shariat atau ilmu fiqh), tetapi juga aspek esoteris (yang biasanya dikaji dalam wilayah ilmu tasawuf). Dalam banyak kesempatan bahkan ia menekankan betapa pentingnya hati suci dan akal suci dalam setiap tindakan dan menyelesaikan masalah. Bagi Dahlan, tidak ada gunanya pangkat dan jabatan yang tinggi kecuali dengan hati yang suci.
Dari gagasan-gagasan tersebut dapat diketahui bahwa Muhammadiyah tidak anti tasawuf. Muhammadiyah sebenarnya sangat mendukung dan mementingkan hidup bertasawuf. Tasawuf yang dipedomani haruslah berlandaskan kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw, artinya dalam praktik amaliahnya harus melalui peribadatan yang resmi (masyru'). Kehidupan tasawuf, sungguhpun mementingkan aspek batin (esoteris), dalam praktiknya harus berimplikasi pada kehidupan sosial, seperti peduli kepada kaum dhu'afa, peduli dan mementingkan orang lain (itsar), dan tak pernah berhenti berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai petunjuk dari Allah dan RasulNya.
KH Ahmad Dahlan dalam pandangan Alm Kuntowijoyo merupakan Man of Action bukan Man of Thought dalam artian sosok beliau adalah sosok yang menerjemahkan pesan-pesan moral Al-Qur’an dengan melaksanakan secara nyata. Sehingga sangat sedikit karya KH Ahmad Dahlan yang berupa tulisan. KRH Hadjid yang merupakan murid langsung KH Ahmad Dahlan menulis pokok pikiran KH Ahmad dalam buku dengan judul Falsafah Ajaran KH Ahmad Dahlan dengan 17 Kelompok Ayat-Ayat Al-Qur’an. Merujuk dari buah pena Abdul Munir Mulkhan dalam buku Warisan Intelektual KH Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah,
Pokok-pokok Pikiran KH Ahmad Dahlan sbb:
  1. Dalam bidang aqidah, pandangan KH Ahmad Dahlan sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama SALAF yang berbasis di Arab Saudi.
  2. Menurut pandangan KH Ahmad Dahlan, beragama adalah beramal; artinya berkarya dan berbuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman Al-Qur’an dan As-Sunah. Orang yang beragama ialah orang yang menghadapkan jiwanya dan hidupnya hanya kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berkorban baik harta benda miliknya dan dirinya, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah. KH Ahmad Dahlan mengartikan Surah Al Maaun 1-7 dengan mendirikan Panti Asuhan,Rumah Miskin dan menyantuni anak yatim.
  3. Dasar pokok hukum Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah dan dari keduanya tidak diketemukan kaidah hukum yang eksplisit maka ditentukan berdasarkan kepada penalaran dengan mempergunakan kemampuan berpikir logis (aqal pikiran yang suci) serta ijtima’ dan qiyas.
  4. Sebagai landasan agar seseorang suka dan senang serta gembira dalam beramal, KH Ahmad Dahlan menyatakan bahwa orang tersebut harus yakin bahwa “MATI ADALAH BAHAYA, AKAN TETAPI LUPA KEPADA KEMATIAN MERUPAKAN BAHAYA YANG JAUH LEBIH BESAR DARIPADA KEMATIAN ITU SENDIRI” di samping itu KH Ahmad Dahlan mengajarkan harus ditanamkan dalam hati seseorang gairah dan gerak hati untuk maju dengan landasan moral dan keikhlasan dalam beramal.
  5. Kunci persoalan untuk meningkatkan kemajuan umat Islam ialah pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat. Dalam kaitannya ini KH Ahmad Dahlan menyampaikan pesan “Menjadilah Insinyur,Guru,Mester dan kembalilah kepada Muhammadiyah”
  6. Pendekatan yang perlu dilakukan dalam menghadapi perubahan perkembangan dunia modern dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menghilangkan sifat fatalism, serta menjauhkan diri dari sikap taqlid melalui jalan menghidupkan jiwa dan semangat Ijtihad;meningkatkan kemampuan berpikir logis rasional.
  7. Rakyat kecil, kaum fakir miskin,para hartawan dan para intelektual adalah merupakan medan dan sasaran gerakan dakwah Muhammadiyah.
Sehubungan dengan pokok-pokok pikiran KH Ahmad Dahlan, Pak AR Fahrudin (Ketua PP Muhammadiyah 1968-1990) menyatakan bahwa yang dikerjakan KH Ahmad Dahlan sepanjang kepemimpinannya dalam Muhammadiyah adalah sbb:
  1. Meluruskan Tauhid, peng-Esaan kepada Allah SWT.hanya Allah yang wajib disembah. Hanya Allah yang wajib ditaati. Hubungan manusia langsung kepada Allah, tanpa perantara siapapun. Karena yang kita mononi hanya kepada Allah sendiri.
  2. Meluruskan cara-cara beribadat menurut contoh ataupun yang diperintahkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Ibadah tidak dibenarkan kalau hanya diperintahkan seseorang, walau yang memerintahan itu guru, atau penguasa sekalipun.
  3. Mulai menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah, percaya kepada hari kiamat, percaya kepada surga dan Negara wajib memiliki akhlak yang luhur dan meninggalkan akhlak yang rendah. Sungguh tidak patut kalau seseorang yang telah mengaku beriman, mengaku beragama Islam, dia masih berjudi, mencuri, berdusta, berzina, sumpah palsu dan mendzholimi orang lain.
Sebagai pelopor gerakan pembaruan pemikiran Islam yang lebih mengutamakan aspek rasional dalam beragama dan menekankan pentingnya peranan akal serta pendidikan akal, ternyata dalam praktik pemimpin dan anggotanya banyak yang mencerminkan dan menekankan pentingnya kehidupan spiritual yang sangat dekat dengan wilayah tasawuf.
Keharusan hidup untuk mensucikan jiwa (akhlaq) yang bersumber dari ajaran agama dan berkehendak menaati seluruh perintah Allah berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. serta “menyifatkan dirinya dengan sifat-sifat Allah”, merupakan ciri dan perilaku kehidupan tasawuf. Meskipun perilaku seperti itu pada zaman Rasul tidak disebut tasawuf, karena istilah atau laqab (julukan) Sufi pada saat itu belum ada.
Istilah sufi baru muncul pada akhir abad dua atau awal abad tiga hijriyah (Abd. Al-Fattah Ahmad Fuad, 1980). Ibn Taimiyah (661-728 H) menyatakan bahwa ahli agama, ahli ilmu dan ahli ibadah pada saat itu disebut kaum Salaf, yang kemudian disebut dengan “Shufiyah wa al-FuqarĆ¢” (Ibn. Taimiyah dan Abd. Al-Fattah Ahmad Fuad, 1980).
Perilaku dan kehidupan spiritual sejumlah pemimpin Muhammadiyah, dilakukan seiring dengan pelaksanaan pemberantasan bid’ah, syirik dan khurafat serta desakralisasi praktik beragama, seperti praktik beragama (baca: bertasawuf) model Ibn Taimiyah. Orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini (sufi) adalah mereka yang sungguh-sungguh mentaati Allah. Di antara mereka ada yang lebih utama karena kesungguhannya dalam ketaatannya pada Allah dan adapula yang masih dalam tahap penyempurnaan, mereka disebut dengan Ahl al-YamĆ®n (Ibn Taimiyah, 1986).
Sementara itu, Imam al-GhazzĆ¢lĆ® (1058-1111 M) memberikan makna tasawuf dengan: “Ketulusan kepada Allah dan pergaulan yang baik kepada sesama manusia”. Setiap orang yang  tulus  kepada  Allah  dan membaguskan pergaulan dengan sesama  manusia menurut al-GhazzĆ¢lĆ® disebut sufi (Al-Ghazzali, 1988). Sedangkan ketulusan kepada Allah Swt. berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan diri sendiri (hawa al-nafs) untuk melaksanakan perintah Allah dengan sepenuh hati.
Sementara pergaulan yang baik dengan sesama manusia tidaklah mengutamakan kepentingannya di atas kepentingan orang lain, selama kepentingan mereka itu sesuai dengan syari’at. Sebab, setiap orang yang rela terhadap penyimpangan syari’at atau dia mengingkarinya, menurut al-GhazzĆ¢lĆ®, dia bukanlah sufi. Jadi, sufi adalah orang yang menempuh jalan hidup dengan menjalankan syariat secara benar dan sekaligus mengambil spiritualitas (hakikat) dari ajaran syariat dalam bentuk penyucian dan pendekatan diri secara terus-menerus kepada Allah Swt. Perilaku ketaatan terhadap syariat itu kemudian diwujudkan dalam perilaku yang penuh moralitas (akhlak mulia) dalam kehidupan sehari-hari (tasawuf akhlaqi).
Apabila pengertian tasawuf mengacu pada pencanderaan seperti yang diungkapkan oleh Ibn Taimiyah maupun al-GhazzĆ¢lĆ® seperti yang disebutkan di atas, maka di dalam Muhammadiyah pun akan muncul wajah-wajah tasawuf, yakni mereka yang ketaatan serta kehidupan spiritualitasnya cukup intens. Tidaklah mengherankan bila disimak dengan seksama penuturan salah seorang murid K.H.A. Dahlan, yaitu K.R.H. Hadjid, bahwa di antara referensi pendiri Muhammadiyah adalah kitab-kitab yang ditulis oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah, Ibn al-Qayyim, Muhammad ibn Abd al-Wahhab, Muhammad ‘Abduh dan termasuk juga karya al-GhazzĆ¢lĆ®. Kitab-kitab tasawuf seperti IhyĆ¢ ‘UlĆ»m al-DĆ®n, BidĆ¢yah al-HidĆ¢yah, Kimiyah al-Sa’Ć¢dah, Kitab al-Arba’Ć®n fĆ® UshĆ»l al-DĆ®n dan sebagainya menjadi bacaan KHA. Dahlan (Kiyai Hadjid, 1968), sehingga keakraban kehidupan spiritual yang dekat dengan wilayah tasawuf juga mewarnai kepribadian pendiri gerakan pembaruan dalam Islam ini. Bahkan beberapa penerusnya seperti Ki Bagus Hadikusumo, cukup intens dalam kehidupan wilayah ini Dia menekankan pentingnya akhlak luhur dan kesederhanaan dalam hidup. Diaa prihatin terhadap krisis akhlak yang melanda umat. Banyak orang mengaku Muslim, tetapi perilakunya tidak Islami. Terhadap krisis ini, Ki Bagus menulis tentang akhlak dalam bukunya “Pustaka Ihsan“ yang mengemukakan tentang istiqĆ¢mah, tawakkul, muhĆ¢sabah, ‘adl, shidq, tawĆ¢dhu’, ikhlĆ¢s, amĆ¢nah, shabr sertaqanĆ¢’ah (Farid Ma’ruf, 1990).
Akhir Hayat KH Ahmad Dahlan
Pada bulan Januari 1923 KH Ahmad Dahlan jatuh sakit. Walaupun demikian bersama sahabatnya pimpinan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan masih sempat mendirikan rumah sakit yang pertama. Rumah Sakit ini kemudian dikenal dengan nama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, yang diresmikan pada 13 Januari 1923
Beberapa bulan sebelumnya kesehatan KH Ahmad Dahlan sesungguhnya telah menurun. Oleh karena itu para sahabatnya meminta KH Ahmad Dahlan istirahat di daerah Tretes, Malang. Justru ditempat itu KH Ahmad Dahlan tetap giat berdakwah dan sempat mendirikan Masjid dan Sholat Jum’at.
     Kurang lebih sebulan sebelum KH Ahmad Dahlan wafat, beliau masih membuka rapat tahunan Muhammadiyah. Dalam kesempatan itu KH Ahmad Dahlan menyampaikan pidato selama 30 menit. Menurut Abdul Munir Mulkhan rekaman pidato terakhir KH Ahmad Dahlan ini diterbitkan oleh Majelis Pustaka pada tahun itu juga (1923) dengan judul “Tali Pengikat Hidup”inti pidato tersebut dikatakan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah pedoman bagi kaum Muslimin, bid’ah dan khurofat adalah suatu tindakan yang sesat.
      Tepat pada 23 Februari 1923 KH Ahmad Dahlan pun wafat setelah sakit beberapa saat. Beberapa waktu sebelum wafat KH Ahmad Dahlan meninggalkan pesan sederhana,namun mengandung nilai tinggi. Pesan KH Ahmad Dahlan berbunyi “Berbuat dan bekerja itu lebih baik dan lebih penting daripada berbicara,”(Abdul Munir Mulkhan,Masalah-Masalah Teologi dan Fikih,h 39-40).

 
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1.      KH.Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875.
2.      KH.Hasyim Asyari adalah seorang ulama’ pendiri nahdlatul ulama’ (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia.
3.      Hasyim Asyari dalam bidang tasawuf mengikuti bidang sufi ortodox.
4.      Corak yang menonjol dari pemikiran tasawwuf yseih hasim adalah membangun citra positif tentang sufi dalam membangun aliran-aliran sesat diluar Ahlusunnah Wal Jama’ah
5.       KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun.
6.      KH. Ahmad Dahlan adalah seorang pendiri Muhammadiyyah organisasi Islam di Indonesia.
7.      KH.Ahmad Dahlan menyatakan bahwa Islam yang sejati itu menganduang dua hal, yaitu unsur lahir dan unsur batin. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ulama Muhammadiyah tidak hanya mementingkan aspek eksoteris (yang biasanya dikaji dalam wilayah ilmu shariat atau ilmu fiqh), tetapi juga aspek esoteris (yang biasanya dikaji dalam wilayah ilmu tasawuf)

3.2 Saran
Penulis memohon maaf apabila ada kesalahan karena kami masih dalam proses pembelajaran dan kami harapkan dengan adanya makalah ini dapat menjadi wacana pembuka pola pikir pembaca. Kami berharap kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.
Daftar Pustaka

Anonyms. KH. Ahmad Dahlan Sufi Sejati Pecinta Tahlilan. (Online), (http://wisatahaji.com/kh-ahmad-dahlan-sufi-sejati-pecinta-tahlilan/) diakses 21 Oktober 2015.
Anonyms. Muhammadiyyah dan Sufisme. (Online) (http://geografientrepreneur.yolasite.com/muhammadiyah-dan-sufisme.php) diakses 19 Oktober 2015.

Iwan. 2013. Gerakan Muhammadiyyah KH. Ahmad Dahlan sebagai Pendiri Muhammadiyyah. (Online), (https://iwanstikesaisyiyah.wordpress.com/2013/09/15/gerakan-muhammadiyah-kh-ahmad-dahlan-sebagai-pendiri-muhammadiyah/) diakses 21 Oktober 2015.

Wikipedia. AhmadDahlan. (Online), (https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan) diakses 21 Oktober 2015.

 Zuhdi. 2011. Pesan-Pesan Spiritual KH. Ahmad Dahlan. (Online), (http://zuhdidh.blogspot.co.id/2011/05/pesan-spiritual-kh-ahmad-dahlan.html) diakses  21 Oktober 2015.



0 komentar:

Posting Komentar