Kata
Pengantar
Syukur Alhamdulillah kami haturkan kepada Allah
SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Pemikiran-Pemikiran
Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Tasawuf
yang dibimbing oleh bapak
Dr. H. Ahmad Barizi, MA.
Pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah
ini.
1.
Terimakasih kepada Bapak Dr. H.
Ahmad Barizi, MA selaku dosen pengampu mata kuliah Tasawuf.
2.
Terimakasih kepada orang tua kami yang selalu
mendoakan dan memotivasi kami.
3.
Terimakasih kepada seluruh anggota kelompok
kami atas kerjasama dan ketekunan dalam mengerjakan tugas ini.
Kami
sadar bahwa makalah
ini jauh dari sempurna oleh karena itu kami mengharap kritik dan
saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga
makalah yang kami susun ini dapat
bermanfaat bagi kami khusunya dan bagi para
pembaca
umumnya. Amiin.
.
Malang, 20 Oktober 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam
Islam terdapat suatu ajaran mistik yang dinamakan dengan ajaran tasawuf, ajaran
ini diperuntukkan bagi hambanya
untuk dapat mendekatan
diri kepada Allah
dengan memusatkan seluruh perhatiannya
dengan cara pembersihan
aspek bathiniahnya, karena seorang hamba baru dapat berada dekat
dengan Allah apabila bathinnya telah bersih dan suci dari segala sifat dan
perbuatan tercela yang dimurkai Allah. Ajaran tasawuf sangatlah menarik
perhatian bagi para kalangan ilmuan, bukan hanya dari kalangan ilmuan Islam
saja, namun juga sudah menarik perhatian dari para kalangan orientalis untuk
menyelidiki dan mendalami inti dari ajaran tasawuf itu sendiri. Begitu pula
dengan pemikiran tasawuf KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Kedua tokoh
tersebut di Indonesia sangat berperan penting dan paling banyak pengikutnya.
Sehingga karena itulah menjadi alasan sangat penting untuk mempelajarinya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
Pemikiran Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari?
2.
Bagaimanakah
Pemikiran Tasawuf KH. Ahmad Dahlan?
1.3
Tujuan
1.
Untuk
Mengetahui Pemikiran Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari
2.
Untuk
Mengetahui Pemikiran Tasawuf KH. Ahmad Dahlan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pemikiran
Tasawuf Menurut KH.Hasyim Asy’ari
KH.Hasyim Asy’ari adalah seorang
ulama yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875. Ayahnya bernama kiai
Asyari, pemimpin pesantren keras yang berada di sebelah Jombang, dan ibunya
bernama Halimah. KH.Hasyim Asyari adalah seorang ulama’ pendiri nahdlatul
ulama’ (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Beliau juga
merupakan pendiri dari pondok pesantren Tebuireng, jawa timur dan juga dikenal
sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dan
pesantren ,ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum,
berorganisasi, dan pidato.
Kiprah KH.Hasyim Asyari juga tidak
diragukan lagi. Beliau pantas disebut sebagai tokoh pelaku sejarah seperti yang
dimaksudkan oleh Thomas Charley dan Soekarno. Selain itu, beliau berhasil
mewarnai tasawuf dengan citra yang lebih positif dalam menghadapi aliran-aliran
lain di nusantara. Beliau juga berhasil
menghimpun kekuatan ulama’ dan kyai dalam satu wadah Nahdlatul Ulama’ yang
didirikannya. Dalam anggaran dasar NU
isebutkan bahwa aspek tasawuf mengikuti antara lain Imam Al Junaid Al Baghdadi
dan Imam Al-Ghazali, serta imam-imam yang lainnya.
Syeikh hasyim Asyari, pendiri NU,
menjelaskan tentang hakikat tasawuf serta penyimpangannya dalam dua kitab,
yaitu, Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Al-Dhurar al Muntatsiroh fi al
masail al-Tis a Asyara. Dalam dunia tasawuf juga dalam ilmu lain dalam
kenyataannya memang terdapat cendekiawan palsu yang membelokkan jalan dari
aturan syariah. Dalam bidang tasawwuf ini menurut syeh hasyim juga terdapat
orang yang merusak konsep tasawuf. Peringatan adanya orang-orang bodoh yang
mengaku bertasawwuf disebutkan oleh syaih Hasyim dalam Risalah Ahlusunnah Waljama’ah.
Ciri-ciri mereka disebutkan menganut paham ibahiyyah (aliran menggugurkan kewajiban
syariat untuk maqom tertentu), reinkarnasi, manunggaling kawulo.
Kewajiban syariat bagi penganut
tariqoh sufi dan para sufi tetaplah wajib dijalankan, dimanapun, kapanpun dan
dalam keadaan apapun. Syekh Hasyim menolak jika kewajiban syariat nabi Muhammad
terpakai oleh orang tertentu dan terbatas oleh waktu tertentu. Orang yang
meyakini gugurnya syariat pada orang dan waktu tertentu dikatakan sebagai orang
yang mengatakan dan mendustakan Al Quran yang agung. Dengan pemahaman ini,
tidak ada perbedaan antara seorang murid dengan mursyid, antara wali dan yang
bukan wali, seluruhnya menanggung kewajiban syariat.
Pandangan syekh hasyim tersebut
sejalan dengan syeikh al Qusyairi, ulama sufi tersohor dari khurasan. Dalam
kitabnya al-Risalah al-Qusyairiyah, syekh Al Qusyairi menerangkan karakteristik ahli tasawuf. Dalam
anggaran dasar NU, bahwa dalam aspek tasawwuf NU mengikuti syeikh Al Junaid al
Baghdadi dan iman Al-Ghazali. Pemikiran sufi syekh Hasyim banyak di pengaruhi
oleh kedua sufi tersebut.
Corak yang menonjol dari pemikiran
tasawwuf yseih hasim adalah membangun citra positif tentang sufi daam membangun
alitan-aliran sesat diluar Ahlusunnah Wal Jama’ah. Secara geologis, tasawwuf
hasyim asyari berasal dari ajaran syeikh nawawi al bantani.dan syeikh Khatib
Sambas adalah dau ulama’ dari indonesia yang mengajar di Mekkah. Keduanya
mewarisi tasawuf imam Al Ghazali.
Syeikh Al Juanid yang dikenal
sebagai guru besar sufi dari Baghdad sangat ketat mengjarkan syariat dalam
murid-muridnya. Menurutnya, orang yang sampai pada tingkat tertentu kemudian
meninggal aktivitas ibadah yang diwajibkan oleh Alloh SWT itu lebih buruk dari
orang-orang yang mencuri dan berzina. Wali yang meninggalkan kewajiban syariat
bukanlah wali tapi jahil.
Imam Al Ghazali mengkritik bahwa seorang
sufi yang mengkuti paradigma asing, yang bukan paradigma sunni, tidak pantas
disebut ahli sufi.
Corak pemikiran seperti itu
digunakan oleh Hasyim Asyari. Orang yang mengaku dirinya wali namun dalam
kesaksiannya tidak mengikuti nabi Muhammad, maka orang tersebut adalah
pendusta. Beliau mengatakan: barang siapa yang mengaku dirinya wali tanpa
kesaksian bahwa dia mengilkuti syariat nabi Muhammad, maka pengakuan tersebut
dusta atau bohong.
Syeikh Hasyim Asyari berpenapat
bahwa seorang wali tidak akan memarken dirinya sebagai seorang wali. Justru
seorang sufi tidak akan menyukai populartas. Ia mengatakan : jenis fitnah itu
banyak sekali. Diantara banyak yang merusak seorang hamba adalah pengakuan
seseorang sebagai guru tarekat dan wal. Bahkan sampai mengaku bahwa dirinya
wali quhtb dan imam mahdi. Padahal mereka bukan ahli syare’at.
Sedangkan kaum muslimin banyak
tertipu mengikuti ajakan yang bermacam-macam tanpa memikirkan apaka ajakan itu
haq atau batil, benar atau salah, tidak mengetahui norma-norma yang disebutkan
dalam kitab fiqih. Dikatakan bahwa karakter seorang wali justru menyembunyikan
kewaliannya dan mengedepankan tawaddu’. Ia mengatakan: wali itu tidak membuka
jalan popularitas dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliannya. Menurut
syekh Hasyim, seorang wali adalah seorang yang dipelihara oleh Allah dari dosa
besar, terjerumus oleh hawa nafsunya sekalipun hanya sekejap, bila melakukan
dosa ia bersegera memohon ampun kepada Alloh, inilah tiga ciri khas seorang
wali. Atas dasar ini, syekh Hasyim berpendapat bahwa syarat menjadi wali adalah
terjaga dari kemaksiatan. Dan sesorang tidak dapat disebut wali jika ia
meremehkan syariat, mengejek Al-quran, membela kesesatan. Sifat pokok kewalian
disebut oleh syekh Hasyim dengan istiqamatu ‘ala adabi. Seseorang yang mengaku
secara dusta bahwa dirinya wali, sesungguhnya orang tersebut tertipu oleh bujuk
rayu setan.Ia sangat selektif dan ketat menerapkan syariat dalam menilai
kewalian seseorang. Tauhid dan syariat adalah parameter utama. Dalam kisahnya,
beliau tidak mudah melabelkan gelar wali tersebut dhahirnya tidak terlihat
melakukan dosa terus menerus.
Dari sini tampak jelas bahwa seorang
sufi dalam pandangan syekh Hasyim adalah orang yang benar-benar menjaga adab.
Adab kepada Allah, Rasululloh dan hamba manusia dalam bentuk praktik syariah
secara total. Dan membersihkan akidahnya dari aliran-aliran yang menyimpang
dari Ahlusunnah wal Jama’ah. Kritik Syekh Hasyim Asy’ari untuk membentengi
islam dan umatnya dari pengaruh-pengaruh luar yang dikhawatirkan menyimpang
dari ajaran syariat islam.
Bagi syekh Hasyim, syarat menjadi seorang murid tarekat saja
sulit, apalagi menjadi seorang mursyid. Hal ini bisa dilihat dari persyaratan
yang harus dipenuhi oleh seorang murid hakiki. Persyaratan tersebut adalah:
1.
Niat
baik. Sebelum mengikuti jalan kesufian seseorang harus memiliki niat yang lurus
dan ibadah yang benar.
2.
Pembimbing
yang benar. Disini murid harus mengetahui kemampuan khusus mursyidnya yang akan
mengantarkannya kepada al Kadrah ilahiyyah.
3.
Tulus
rela mengikuti jalan sufi. Mereka yang mengikuti jalan sufi harus melaksanakan
seluruh etika yang dianjurkan oleh agama.
4.
Mejaga
kesucian jiwa. Untuk menjaga kesucian jiwa tersebut, seseorang harus senantiasa
mengikuti sunnah Nabi SAW.
5.
Menjaga
kehormatan. Murid harus mengikuti mursyid dan saudara seagamanya, baik di dunia
maupun di akhirat, tabah menghadapi sikap permusuhan dari orang lain,
menghormati mereka yang lebih tinggi derajat kesufiannya dan mencintai yang
lebih rendah.
6.
Kemauan
yang baik. Murid harus menjadi pelayan yang baik bagi Allah, bagi mursyid
syekh, dan sesama muslim dengan jalan melaksanakan yang diperintahkan Allah dan
menjauhi yang dilarang Allah.
7.
Senantiasa
meningkatkan semangat raf’alhimmah. Untuk menjangkau makrifat yang
sesungguhnya, murid harus senantiasa menjaga usahanya dengan sungguh-sungguh.
Sebab tanpa usaha yang serius dan kontinu, ma’rifat mustahil di capai.
8.
Jiwa
yang agung. Murid harus berjiwa agung mengingat apa yang ia cari adalah
ma’rifat al khaskhasah tentang Allah, demi kebaikan jiwanya bukan untuk dunia
fana.
Dalam kitab
Tamyiz Al-Haq Min Al-Bathi’ ini, dikisahkan bahwa wasiat syekh Hasyim muncul
dari sebuah sikap dan respon syekh Hasyim atas pernyataan kyai sukowangi Rebah
Kendangan Pare Kediri.
2.2 Pemikiran
Tasawuf KH. Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis
(lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu
Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H.
Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.
Syehk
Sholih Darat adalah guru sejati Muhammad Darwis. Selama dua tahun
Muhamamd Darwis nyantri ilmu agama kepada Syekh Sholih Darat di Semarang.
Selama itu pula, berbagai ilmu agama diajarkan, mulai fikih syafii, hadis,
tafsir, dan tasawuf. Sebelum Muhammad Darwis berangkat ke tanah suci Makkah, sudah
terbiasa dengan tradisi tahlilan, dibaan, sholawatan. Tidak aneh, jika
Muhamamd Darwis melakukannya, karena memang beliau adalah keturunan
Maulana Ishak yang ahli tasawuf, serta membangun budaya Tahlil.
Sebelum
beragkat haji, malam
harinya mengadakan tahlinan dan membaca berjani (dibaan), sebagai bentuk syukur
kepada Allah SWT, sekaligus meminta doa kepada saudara-saudara dan
tetangga. Bukan berarti, Muhammad Darwis tersesat dan ahli bidah
(mengada-ngada) dengan melakukan tahlilan, dibaan (Al-Barjanji), dan maulidan.
Seusai
menunaikan ritual Ibadah haji, Muhammad Darwis dirubah namanya oleh Sayed Abu Bakar Shata, sekaligus mendapatkan sertifikat. Sejak
itulah, nama Muhammad Darwis berubah menjadi Ahmad Dahlan. Selama di Makkah,
Muhammad Darwis yang namanya berubah menjadi Ahmad Dahlan belajar ilmu qoraat,
tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, dan ilmu falak. Bukan berarti KH Ahmad Dahlan
tersesat (dolalah) jika belajar ilmu tasawuf (Sufi), apalagi dihakimi masuk neraka.
Sekilas
tentang Sayed Abu Bakar Shata. Tokoh yang nama sebenarnya Abu Bakar bin
Muhammad Zainal Abidin Syatha ini lahir di Makkah tahun
1266 H/1849 M. Ia berasal dari keluarga Syatha,
yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya. Sayyid Abu Bakar Syatha
merupakan seorang ulama’ Syafi’i, mengajar di Masjidil Haram di Makkah
al-Mukarramah. Hampir setiap santri yang datang dari nusantara selalu
mengambil ilmu dari beliau, termasuk KH Hasyim Asy’ari pendiri NU.
KH Ahmad
Dahlan benar-benar menjadi santri sejati
Sayyid Abu Bakar Shata. Wajar, jika beliau selalu menjalankan madhab
Syafii dalam ibadahnya sehar-hari, seperti; qunut subuh, tarawih 20 rakaat, maulidan tahlilan adalah satu di antara tradisi yang
sudah dilakukan sebelum KH Ahmad Dahlan menunaikan Ibadah haji.
Guru-guru
KH Ahmad Dahlan cukup banyak, seperti; KH Dahlan Semarang, KH Saleh Darat
Semarang, Kyai Termas, Syekh Djamil Dajmbek. Ketika di Makkah, beliau juga rajin membaca buku-buku yang
ditulis oleh tokoh pembaharuan, seperti; Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, Kitab
Kanzu Al-Ulum untuk memperkaya pengetahuannya. Kendati beliau telah banyak
membaca buku-buku para pemikir islam modern, beliau tetap teguh di dalam
menjalankan tata cara Ibadanya sesuai dengan Madhab Syafii. Dalam
kehidupan sehari-hari, beliau mencerminkan seorang zuhud dan sufi sejati.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Yogjakarta mengenai Nahwu,
Fiqh, dan Tafsir, ia pergi ke Mekkah tahun 1890. Di Mekkah ia tinggal selama
satu tahun. Salah seorang gurunya adalah Shaykh Ahmad Khatib (Imam dari madhhab
Shafi'i di Masjid al-Haram. Pada tahun 1903 ia mengunjungi kembali Tanah Suci
dan ia kemudian menetap di sana selama dua tahun.
Sekembalinya ke tanah air, ia mulai berjuang menegakkan Islam. Ia
mulai mengintrodusir cita-citanya itu dengan mengubah arah orang salat kepada
kiblat yang sebenarnya (sebelumnya arah salat biasanya ke Barat). Pada waktu
yang bersamaan ia mulai pula mengorganisir kawan-kawannya di daerah Kauman-Yogjakarta
untuk melakukan pekerjaan sukarela dalam memperbaiki kondisi higenis daerahnya
dengan memperbaiki dan membersihkan jalan-jalan dan parit-parit.
Dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya, ia pernah mendapatkan
tantangan dari ulama setempat, yaitu Kyai Haji Mohammad Khalil yang
memerintahkan untuk merobohkan langgar yang didirikannya sesuai dengan arah
kiblat yang sebenarnya itu. Saat itu ia hampir putus asa, tetapi kemudian
keluarga dan para simpatisannya membantu membangunkan langgar untuknya dengan
jaminan ia dapat mengajarkan dan mempraktikkan agama menurut keyakinannya.
Selanjutnya ia menggantikan posisi ayahnya sebagai khatib di masjid Sultan.
Saat itu Dahlan telah diakui sebagai seorang ulama oleh kyai-kyai lain. Karena
kelurusannya dan kesungguhannya dalam bekerja, ia mendapatkan julukan ketib
amin (khatib yang diandalkan). Tindakan penghulu untuk menghancurkan langgar
yang dibuat oleh Kyai Dahlan tadi, mungkin disebabkan oleh dua pertimbangan,
yaitu cemburu ataupun kepercayaan tradisional bahwa hanya sebuah masjid yang
bisa dilakukan salat Jumat dalam satu daerah tertentu. Ataupun alasan
kedua-duanya.
Pada tahun 1909, Dahlan masuk Budi Utomo dengan tujuan memberikan
pelajaran agama kepada anggota-anggotanya. Dengan jalan ini ia berharap akan
dapat memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah, oleh sebab
anggota-anggota Budi Utomo itu pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah yang
didirikan pemerintah dan juga di kantor-kantor pemerintah. Dia pun mempunyai
harapan agar guru-guru sekolah yang diajarnya itu sendiri dapat meneruskan isi
pelajarannya kepada murid-murid mereka pula. Pelajaran-pelajaran yang diberikan
oleh Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan keperluan anggota-anggota Budi
Utomo tadi. Oleh karena itu mereka kemudian menganjurkan kepada Dahlan agar
membuka sebuah sekolah sendiri, yang diatur dengan rapi dan didukung oleh
organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib kebanyakan
pesantren tradisional yang terpaksa ditutup lantaran kyainya meninggal.
Dari gagasan tersebut maka didirikanlah Muhammadiyah pada tahun 1912 di Yogjakarta. Organisasi ini mempunyai cita-cita: "menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada penduduk bumiputera dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya". Sambil memimpin Muhammadiyah, Dahlan tetap aktif bertabligh, aktif pula mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah, aktif dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti salat, dan dalam memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan mengumpulkan dana dan pakaian untuk mereka. Dari kepedulian sosial yang di contohkan oleh Dahlan ini kemudian Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga sosial seperti Panti Asuhan, Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) dan lembaga-lembaga pendidikan.
KH. Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah hanya dalam tempo 10 tahun 3
bulan, tetapi hampir satu abad kemudian, gagasan, karya, dan amal Dahlan telah
mampu mengubah pola kehidupan keagamaan pemeluk Islam di negeri ini menjadi
lebih fungsional. Pengelolaan ibadah seperti zakat, haji, salat, puasa, korban
bagi tujuan-tujuan sosial, selain sebagai kewajiban ritual, telah menjadi
tradisi umat, bukan hanya anggota Muhammadiyah. Kini, hampir tidak ada pemeluk
Islam di negeri ini yang tidak berminat menyekolahkan anak-anak mereka ke
lembaga pendidikan moderen seperti sekolah atau madrasah hingga pendidikan
tinggi. Dulu, khutbah Jum'at di masjid-masjid yang tidak disampaikan dalam
bahasa Arab dianggap tidak sah, kini hampir di semua pelosok negeri ini
khutbah-khutbah dapat disampaikan dengan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa
daerah setempat.
Pesan-Pesan Spiritual KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad
Dahlan memang tidak banyak meninggalkan karya tulis, kecuali dua buah dokumen
yang disampaikan dalam kongres Islam ke-1 di Cirebon pada tahun 1921 M dan
transkrip pidato terakhirnya dalam Kongres Muhammadiyah bulan Desember tahun
1922 M, beberapa bulan sebelum wafatnya, pada bulan Februari 1923 M. Dari dua
dokumen tersebut dapat diketahui bagaimana gagasan dan pemikiran Dahlan tentang
Islam, ilmu pengetahuan, masyarakat dan pendidikan. Dari kedua dokumen itu pula
dapat ditemukan gagasan sufistik dalam rumusan kalimat yang bernuansa batiniah
seperti Islam sejati , akal suci , hati suci , dan Qur'an suci.
Dalam prasaran Muhammadiyah pada Kongres Islam ke-1 tahun 1921 di
Cirebon dinyatakan bahwa: "Jalan yang betul itu ialah Islam sejati. Islam
sejati itu ada dua bagiannya, yakni lahir dan batin. …Persatuan Islam itulah
yang harus kita tuju, supaya orang Islam dapat hidup secara Islam, menurut
rancangan yang hukum-hukumnya sudah sempurna terpaku dalam al-Qur'an suci.
….bahwa hidup orang Islam harus berasaskan Qur'an….Beribadah kepada Allah,
tiada dengan perantaraan antara manusia dengan Allah".
Pemikiran KH.Ahmad Dahlan juga bisa dilihat dari kutipan ringkas
berikut ini: "Sebagian besar pemimpin belum menaruh perhatian kepada
kebaikan dan kesejahteraan manusia, akan tetapi baru memperhatikan kaum dan
golongannya sendiri bahkan badannya sendiri. Baginya, pemimpin yang bersedia
berjuang bagi kesejahteraan seluruh manusia, tidak terbatas kelompoknya sendiri
ialah…orang-orang yang benar-benar menemukan hal-hal yang baik bagi sebagian
besar orang serta mereka berpikir secara dalam dan luas…dalam menentukan
baik-buruk, betul-salah, hanyalah hukum yang sah dan hati yang suci….selain
hati suci, ia juga menyebut fungsi akal pikiran yang suci. Yakni menurutnya,
pembuatan keputusan yang bukan keputusan yang dibuat sendiri. Dalam hal ini ia
berpendapat, suatu pengetahuan hanya akan bermanfaat jika direalisasi sesuai
keadaan, dan bahaya besar akan dihadapi jika setiap persoalan tidak dipecahkan
dengan hati yang suci atau pikiran yang suci.(baca Mulkhan, 1990).
Dalam Kongres 1922, KH.Ahmad Dahlan menyatakan: "Untuk
memimpin kehidupan seharusnya mempergunakan satu metode kepemimpinan, yaitu
al-Qur'an….seluruh manusia harus bersatu hati mufakat yang disebabkan karena
segala pembicaraan memakai hukum yang sah dan hati yang suci…untuk mencapai
maksud dan tujuan harus dengan mempergunakan akal yang sehat….tidak ada gunanya
pangkat yang tinggi kecuali dengan hati yang suci.
KH.Ahmad Dahlan dalam Sidang Tahunan 1922, menyatakan bahwa
kehidupan dunia-akhirat harus dicapai dengan pengetahuan yang benar dari hasil
penelitian. Kecerdasan ialah kemampuan mengatasi penderitaan disertai selalu
ingat kepada Tuhan. Dalam Kongres Islam di Cirebon, Dahlan menyatakan, karena
persamaan kedudukan, tidak perlu perantara dalam ibadah. Untuk itu, manusia
harus bekerja sama dengan semua pihak, walaupun berbeda agama. Perubahan
kehidupan manusia dan alam bersifat kausal seperti temuan penelitian.
Bagi Dahlan, kesalehan ialah pencarian kebenaran tanpa final,
terbuka berdialog dengan semua pihak yang berbeda. Keputusan adalah benar jika:
(a) paling kecil pertentangannya, (b) mendengar, membanding dan menimbang
segala pendapat, (c) sesuai akal dan hati suci. Keikhlasan adalah dasar hidup
sosial dan mencapai tujuan berdasarkan teori dan ketrampilan. Kebahagiaan
adalah sikap ikhlas, tidak lupa kematian, dan ilmu sebagai kunci kemajuan dan
kebahagiaan bersama.
Beberapa komentar dari para peneliti tentang gagasan dan pemikiran
Dahlan dari kedua dokumen tersebut menyimpulkan, di antaranya Yunus Salam
mengatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan memandang ketaatan syari'at sebagai hasil
ketaatan batiniah. Farid Ma'ruf bahkan menyatakan bahwa keagamaan Kyai Ahmad
Dahlan seperti shufinya Imam al-Ghazali. Apa yang dikemukakan oleh Ma'ruf bahwa
keagamaan Dahlan sama dengan shufinya Imam al-Ghazali ini barangkali yang
dimaksud adalah bahwa Dahlan sangat memperhatikan aspek batiniah di samping
aspek syari'at sebagaimana al-Ghazali juga mementingkan aspek syari'at di
samping tarekat.
Jainuri, dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa pandangan Kyai
Haji Ahmad Dahlan itu sebagai relativis dan pluralis yang meletakkan hati suci
jauh lebih penting dari lembaga formal. Organisasi bagi Dahlan adalah instrumen
pengembangan kesalehan hati suci itu. (baca Jainuri,1997)
Jika
dicermati lebih dalam, apa yang digagas oleh KH.Ahmad Dahlan dalam
pidato-pidatonya itu, sebenarnya tampak jelas kesadaran sufistiknya. Istilah
Islam sejati, akal suci, hati suci, dan Qur'an suci adalah gambaran tentang
pentingnya aspek batin dalam mengamalkan agama. Memang tidak banyak atau hampir
tidak ada istilah-istilah teknis dalam tradisi shufi yang muncul dari seluruh
pemikirannya. Beberapa kandungan pidato yang pernah disampaikan Dahlan dapat
disari sebagai berikut: (1). Mengamalkan ajaran Islam tidak cukup dari aspek
shari'at (eksoteris)nya saja, akan tetapi harus juga memperhatikan aspek batin
(esoteris)nya; (2). Setiap amalan dan segala bentuk perjuangan harus dilandasi
hati yang suci, bersih (ikhlas) semata karena Allah Swt; (3). Dalam hidup
bermasyarakat tidak boleh mementingkan diri sendiri, tetapi harus mengutamakan
orang lain (itsar); (4). Setiap memegang jabatan atau kekuasaan harus didasari
dan disadari sebagai amanah dari Allah, karena tidak ada artinya memegang
jabatan yang tinggi jika tidak dilandasi hati yang suci, untuk mendapatkan ridhaNya;
(5). Setiap menghadapi kesulitan hidup harus selalu ingat kepada Allah (dhikr),
dan dengan pikiran yang cerdas; (6). Dalam usaha meraih kesuksesan dan
kebahagiaan hidup di dunia jangan sampai lupa bahwa hidup di dunia ini sifatnya
sementara, masih ada kehidupan yang kekal, yaitu di akhirat; (7). Dalam melakukan
pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), tidak perlu pakai perantara,
karena di hadapan Allah semua manusia itu sama, dan Allah sudah menyatakan
bahwa Allah itu sangat dekat (qarib) dengan hambaNya.
Dari tujuh hal yang disampaikan oleh KH.Ahmad Dahlan
tersebut, agaknya selaras dengan apa yang telah disampaikan oleh para tokoh
shufi seperti al-Junaid yang mengatakan bahwa tasawuf artinya engkau berada
semata-mata bersama Allah tanpa keterkaitan dengan apa pun; kemudian kata
al-Mishri bahwa orang-orang shufi adalah mereka yang mengutamakan Allah di atas
segala-galanya; kata al-Suyuti bahwa shufi itu adalah seseorang yang
terus-menerus melakukan penyucian hati dalam berhubungan dengan Allah dan
berbuat baik kepada makhluk; dan kata al-Ghazali bahwa shufi itu adalah orang
yang selalu berusaha membersihkan diri dari segala kotoran melalui penyucian
hati dengan tujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt .
KH.Ahmad Dahlan menyatakan bahwa Islam yang sejati itu menganduang
dua hal, yaitu unsur lahir dan unsur batin. Pernyataan ini menunjukkan bahwa
ulama Muhammadiyah tidak hanya mementingkan aspek eksoteris (yang biasanya
dikaji dalam wilayah ilmu shariat atau ilmu fiqh), tetapi juga aspek esoteris
(yang biasanya dikaji dalam wilayah ilmu tasawuf). Dalam banyak kesempatan
bahkan ia menekankan betapa pentingnya hati suci dan akal suci dalam setiap
tindakan dan menyelesaikan masalah. Bagi Dahlan, tidak ada gunanya pangkat dan
jabatan yang tinggi kecuali dengan hati yang suci.
Dari gagasan-gagasan tersebut dapat diketahui bahwa Muhammadiyah
tidak anti tasawuf. Muhammadiyah sebenarnya sangat mendukung dan mementingkan
hidup bertasawuf. Tasawuf yang dipedomani haruslah berlandaskan kepada
al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw, artinya dalam praktik amaliahnya harus
melalui peribadatan yang resmi (masyru'). Kehidupan tasawuf, sungguhpun
mementingkan aspek batin (esoteris), dalam praktiknya harus berimplikasi pada
kehidupan sosial, seperti peduli kepada kaum dhu'afa, peduli dan mementingkan
orang lain (itsar), dan tak pernah berhenti berjuang menegakkan kebenaran dan
keadilan sesuai petunjuk dari Allah dan RasulNya.
KH Ahmad Dahlan dalam pandangan
Alm Kuntowijoyo merupakan Man of Action bukan Man of Thought
dalam artian sosok beliau adalah sosok yang menerjemahkan pesan-pesan moral
Al-Qur’an dengan melaksanakan secara nyata. Sehingga sangat sedikit karya KH
Ahmad Dahlan yang berupa tulisan. KRH Hadjid yang merupakan murid langsung KH
Ahmad Dahlan menulis pokok pikiran KH Ahmad dalam buku dengan judul Falsafah
Ajaran KH Ahmad Dahlan dengan 17 Kelompok Ayat-Ayat Al-Qur’an. Merujuk dari
buah pena Abdul Munir Mulkhan dalam buku Warisan Intelektual KH Ahmad Dahlan
dan Amal Muhammadiyah,
Pokok-pokok Pikiran KH Ahmad Dahlan sbb:
- Dalam bidang aqidah, pandangan KH Ahmad Dahlan sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama SALAF yang berbasis di Arab Saudi.
- Menurut pandangan KH Ahmad Dahlan, beragama adalah beramal; artinya berkarya dan berbuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman Al-Qur’an dan As-Sunah. Orang yang beragama ialah orang yang menghadapkan jiwanya dan hidupnya hanya kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berkorban baik harta benda miliknya dan dirinya, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah. KH Ahmad Dahlan mengartikan Surah Al Maaun 1-7 dengan mendirikan Panti Asuhan,Rumah Miskin dan menyantuni anak yatim.
- Dasar pokok hukum Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah dan dari keduanya tidak diketemukan kaidah hukum yang eksplisit maka ditentukan berdasarkan kepada penalaran dengan mempergunakan kemampuan berpikir logis (aqal pikiran yang suci) serta ijtima’ dan qiyas.
- Sebagai landasan agar seseorang suka dan senang serta gembira dalam beramal, KH Ahmad Dahlan menyatakan bahwa orang tersebut harus yakin bahwa “MATI ADALAH BAHAYA, AKAN TETAPI LUPA KEPADA KEMATIAN MERUPAKAN BAHAYA YANG JAUH LEBIH BESAR DARIPADA KEMATIAN ITU SENDIRI” di samping itu KH Ahmad Dahlan mengajarkan harus ditanamkan dalam hati seseorang gairah dan gerak hati untuk maju dengan landasan moral dan keikhlasan dalam beramal.
- Kunci persoalan untuk meningkatkan kemajuan umat Islam ialah pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat. Dalam kaitannya ini KH Ahmad Dahlan menyampaikan pesan “Menjadilah Insinyur,Guru,Mester dan kembalilah kepada Muhammadiyah”
- Pendekatan yang perlu dilakukan dalam menghadapi perubahan perkembangan dunia modern dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menghilangkan sifat fatalism, serta menjauhkan diri dari sikap taqlid melalui jalan menghidupkan jiwa dan semangat Ijtihad;meningkatkan kemampuan berpikir logis rasional.
- Rakyat kecil, kaum fakir miskin,para hartawan dan para intelektual adalah merupakan medan dan sasaran gerakan dakwah Muhammadiyah.
Sehubungan dengan pokok-pokok pikiran KH Ahmad
Dahlan, Pak AR Fahrudin (Ketua PP Muhammadiyah 1968-1990) menyatakan bahwa yang
dikerjakan KH Ahmad Dahlan sepanjang kepemimpinannya dalam Muhammadiyah adalah
sbb:
- Meluruskan Tauhid, peng-Esaan kepada Allah SWT.hanya Allah yang wajib disembah. Hanya Allah yang wajib ditaati. Hubungan manusia langsung kepada Allah, tanpa perantara siapapun. Karena yang kita mononi hanya kepada Allah sendiri.
- Meluruskan cara-cara beribadat menurut contoh ataupun yang diperintahkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Ibadah tidak dibenarkan kalau hanya diperintahkan seseorang, walau yang memerintahan itu guru, atau penguasa sekalipun.
- Mulai menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah, percaya kepada hari kiamat, percaya kepada surga dan Negara wajib memiliki akhlak yang luhur dan meninggalkan akhlak yang rendah. Sungguh tidak patut kalau seseorang yang telah mengaku beriman, mengaku beragama Islam, dia masih berjudi, mencuri, berdusta, berzina, sumpah palsu dan mendzholimi orang lain.
Sebagai pelopor gerakan pembaruan pemikiran Islam yang
lebih mengutamakan aspek rasional dalam beragama dan menekankan pentingnya
peranan akal serta pendidikan akal, ternyata dalam praktik pemimpin dan
anggotanya banyak yang mencerminkan dan menekankan pentingnya kehidupan
spiritual yang sangat dekat dengan wilayah tasawuf.
Keharusan hidup untuk mensucikan jiwa (akhlaq) yang
bersumber dari ajaran agama dan berkehendak menaati seluruh perintah Allah
berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. serta “menyifatkan dirinya
dengan sifat-sifat Allah”, merupakan ciri dan perilaku kehidupan tasawuf.
Meskipun perilaku seperti itu pada zaman Rasul tidak disebut tasawuf, karena
istilah atau laqab (julukan) Sufi
pada saat itu belum ada.
Istilah sufi
baru muncul pada akhir abad dua atau awal abad tiga hijriyah (Abd. Al-Fattah
Ahmad Fuad, 1980). Ibn Taimiyah (661-728 H) menyatakan bahwa ahli agama, ahli
ilmu dan ahli ibadah pada saat itu disebut kaum Salaf, yang kemudian disebut
dengan “Shufiyah wa al-FuqarĆ¢” (Ibn.
Taimiyah dan Abd. Al-Fattah Ahmad Fuad, 1980).
Perilaku dan
kehidupan spiritual sejumlah pemimpin Muhammadiyah, dilakukan seiring dengan
pelaksanaan pemberantasan bid’ah, syirik dan khurafat serta desakralisasi
praktik beragama, seperti praktik beragama (baca: bertasawuf) model Ibn
Taimiyah. Orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini (sufi) adalah mereka
yang sungguh-sungguh mentaati Allah. Di antara mereka ada yang lebih utama
karena kesungguhannya dalam ketaatannya pada Allah dan adapula yang masih dalam
tahap penyempurnaan, mereka disebut dengan Ahl
al-YamƮn (Ibn Taimiyah, 1986).
Sementara itu,
Imam al-GhazzĆ¢lĆ® (1058-1111 M) memberikan makna tasawuf dengan: “Ketulusan
kepada Allah dan pergaulan yang baik kepada sesama manusia”. Setiap orang
yang tulus kepada
Allah dan membaguskan pergaulan
dengan sesama manusia menurut
al-Ghazzâlî disebut sufi (Al-Ghazzali, 1988). Sedangkan ketulusan kepada Allah
Swt. berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan diri sendiri (hawa al-nafs) untuk melaksanakan
perintah Allah dengan sepenuh hati.
Sementara
pergaulan yang baik dengan sesama manusia tidaklah mengutamakan kepentingannya
di atas kepentingan orang lain, selama kepentingan mereka itu sesuai dengan
syari’at. Sebab, setiap orang yang rela terhadap penyimpangan syari’at atau dia
mengingkarinya, menurut al-Ghazzâlî, dia bukanlah sufi. Jadi, sufi adalah orang yang menempuh jalan hidup dengan
menjalankan syariat secara benar dan sekaligus mengambil spiritualitas
(hakikat) dari ajaran syariat dalam bentuk penyucian dan pendekatan diri secara
terus-menerus kepada Allah Swt. Perilaku ketaatan terhadap syariat itu kemudian
diwujudkan dalam perilaku yang penuh moralitas (akhlak mulia) dalam kehidupan
sehari-hari (tasawuf akhlaqi).
Apabila
pengertian tasawuf mengacu pada pencanderaan seperti yang diungkapkan oleh Ibn
Taimiyah maupun al-Ghazzâlî seperti yang disebutkan di atas, maka di dalam
Muhammadiyah pun akan muncul wajah-wajah tasawuf, yakni mereka yang ketaatan
serta kehidupan spiritualitasnya cukup intens. Tidaklah mengherankan bila
disimak dengan seksama penuturan salah seorang murid K.H.A. Dahlan, yaitu
K.R.H. Hadjid, bahwa di antara referensi pendiri Muhammadiyah adalah kitab-kitab yang ditulis oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu
Taimiyah, Ibn al-Qayyim, Muhammad ibn Abd al-Wahhab, Muhammad
‘Abduh dan termasuk juga karya al-GhazzĆ¢lĆ®. Kitab-kitab tasawuf seperti IhyĆ¢ ‘UlĆ»m al-DĆ®n, BidĆ¢yah
al-HidĆ¢yah, Kimiyah al-Sa’Ć¢dah, Kitab al-Arba’Ć®n fĆ® UshĆ»l al-DĆ®n dan
sebagainya menjadi bacaan KHA. Dahlan (Kiyai Hadjid, 1968), sehingga keakraban
kehidupan spiritual yang dekat dengan wilayah tasawuf juga mewarnai kepribadian
pendiri gerakan pembaruan dalam Islam ini. Bahkan beberapa penerusnya seperti
Ki Bagus Hadikusumo, cukup intens dalam kehidupan wilayah ini Dia menekankan
pentingnya akhlak luhur dan kesederhanaan dalam hidup. Diaa prihatin terhadap
krisis akhlak yang melanda umat. Banyak orang mengaku Muslim, tetapi perilakunya
tidak Islami. Terhadap krisis ini, Ki Bagus menulis tentang akhlak dalam
bukunya “Pustaka Ihsan“ yang
mengemukakan tentang istiqâmah, tawakkul,
muhĆ¢sabah, ‘adl, shidq, tawĆ¢dhu’, ikhlĆ¢s, amĆ¢nah, shabr sertaqanĆ¢’ah (Farid Ma’ruf, 1990).
Akhir Hayat KH Ahmad Dahlan
Pada bulan Januari 1923 KH Ahmad Dahlan jatuh sakit.
Walaupun demikian bersama sahabatnya pimpinan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan
masih sempat mendirikan rumah sakit yang pertama. Rumah Sakit ini kemudian
dikenal dengan nama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, yang diresmikan pada 13
Januari 1923
Beberapa
bulan sebelumnya kesehatan KH Ahmad Dahlan sesungguhnya telah menurun. Oleh
karena itu para sahabatnya meminta KH Ahmad Dahlan istirahat di daerah Tretes,
Malang. Justru ditempat itu KH Ahmad Dahlan tetap giat berdakwah dan sempat
mendirikan Masjid dan Sholat Jum’at.
Kurang lebih sebulan sebelum KH Ahmad Dahlan wafat, beliau masih membuka rapat
tahunan Muhammadiyah. Dalam kesempatan itu KH Ahmad Dahlan menyampaikan pidato
selama 30 menit. Menurut Abdul Munir Mulkhan rekaman pidato terakhir KH Ahmad
Dahlan ini diterbitkan oleh Majelis Pustaka pada tahun itu juga (1923) dengan
judul “Tali Pengikat Hidup”inti pidato tersebut dikatakan bahwa Al-Qur’an dan
Sunnah adalah pedoman bagi kaum Muslimin, bid’ah dan khurofat adalah suatu
tindakan yang sesat.
Tepat pada 23 Februari 1923 KH Ahmad Dahlan pun wafat setelah sakit beberapa
saat. Beberapa waktu sebelum wafat KH Ahmad Dahlan meninggalkan pesan
sederhana,namun mengandung nilai tinggi. Pesan KH Ahmad Dahlan berbunyi
“Berbuat dan bekerja itu lebih baik dan lebih penting daripada
berbicara,”(Abdul Munir Mulkhan,Masalah-Masalah Teologi dan Fikih,h
39-40).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. KH.Hasyim
Asy’ari adalah seorang ulama yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875.
2. KH.Hasyim
Asyari adalah seorang ulama’ pendiri nahdlatul ulama’ (NU), organisasi
kemasyarakatan terbesar di Indonesia.
3. Hasyim
Asyari dalam bidang tasawuf mengikuti bidang sufi ortodox.
4. Corak
yang menonjol dari pemikiran tasawwuf yseih hasim adalah membangun citra
positif tentang sufi dalam membangun aliran-aliran sesat diluar Ahlusunnah Wal
Jama’ah
5. KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun.
6. KH. Ahmad Dahlan adalah seorang pendiri Muhammadiyyah
organisasi Islam di Indonesia.
7. KH.Ahmad
Dahlan menyatakan bahwa Islam yang sejati itu menganduang dua hal, yaitu unsur
lahir dan unsur batin. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ulama Muhammadiyah
tidak hanya mementingkan aspek eksoteris (yang biasanya dikaji dalam wilayah
ilmu shariat atau ilmu fiqh), tetapi juga aspek esoteris (yang biasanya dikaji
dalam wilayah ilmu tasawuf)
3.2 Saran
Penulis memohon maaf apabila ada kesalahan karena kami masih dalam
proses pembelajaran dan kami harapkan dengan adanya makalah ini dapat menjadi
wacana pembuka pola pikir pembaca. Kami berharap kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.
Daftar Pustaka
Anonyms. KH. Ahmad Dahlan Sufi Sejati Pecinta Tahlilan. (Online),
(http://wisatahaji.com/kh-ahmad-dahlan-sufi-sejati-pecinta-tahlilan/) diakses 21 Oktober 2015.
Anonyms. Muhammadiyyah
dan Sufisme. (Online) (http://geografientrepreneur.yolasite.com/muhammadiyah-dan-sufisme.php) diakses 19 Oktober 2015.
Iwan. 2013. Gerakan
Muhammadiyyah KH. Ahmad Dahlan sebagai Pendiri Muhammadiyyah. (Online), (https://iwanstikesaisyiyah.wordpress.com/2013/09/15/gerakan-muhammadiyah-kh-ahmad-dahlan-sebagai-pendiri-muhammadiyah/) diakses 21 Oktober 2015.
Wikipedia. AhmadDahlan. (Online),
(https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan) diakses 21 Oktober 2015.
Zuhdi. 2011. Pesan-Pesan
Spiritual KH. Ahmad Dahlan. (Online), (http://zuhdidh.blogspot.co.id/2011/05/pesan-spiritual-kh-ahmad-dahlan.html) diakses 21 Oktober 2015.

0 komentar:
Posting Komentar