BUDAYA BANTENGAN DI KOTA WISATA BATU
DosenPembimbing :
M. Anwar Fu’ady, S.Psi, MA.
Matematika C
DisusunOleh :
1.
M.
Firman Ali (11610065)
2.
KamaliaRizki
R (13610082)
3.
IzzaFarihah (13610086)
4.
WahyuNurilFitria (13610090)
5.
Wise
Ahmad Sofia (13610106)
6.
MiftahulJannah (13610108)
7.
VinaMafaza (13610110)
8.
Dian
Nan Brylliant (13610112)
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Zat
yang memiliki seluruh ilmu pengetahuan dan yang telah meninggikan derajat
orang-orang beriman dan berilmu. Sholawat dan salam semoga di curahkan pada
Nabi Muhammad SAW., yang telah memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu dari
ayunan sampai ke liang lahat, bahkan sampai ke negeri China. Selesainya makalah
ini merupakan salah satu bentuk karunia dan rahmat dari Allah SWT.
Terima kasih kepada Bapak M. Anwar
Fuady, S.psi, MA., selaku dosen pembimbing pada mata kuliah Ilmu Sosisl dan
Budaya Dasar. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Sosisl dan Budaya Dasar.
Adapaun dalam makalah ini membahas tentang Budaya Kesenian Bantengan di Kota Batu secara umum. Harapan penulis semoga membawa manfaat bagi kita semua. Tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, demikian juga dengan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah yang disusun ini masih memiliki banyak kekurangan. Karena makalah ini disusun dan diselesaikan berdasarkan kemampuan penulis. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian, yang tentunya merupakan masukan yang bersifat menbangun dan menyempurnakan makalah ini, demikan makalah ini dibuat, semoga dapat menyempurnakan pengetahuan bagi para pembaca sekalian.
Adapaun dalam makalah ini membahas tentang Budaya Kesenian Bantengan di Kota Batu secara umum. Harapan penulis semoga membawa manfaat bagi kita semua. Tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, demikian juga dengan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah yang disusun ini masih memiliki banyak kekurangan. Karena makalah ini disusun dan diselesaikan berdasarkan kemampuan penulis. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian, yang tentunya merupakan masukan yang bersifat menbangun dan menyempurnakan makalah ini, demikan makalah ini dibuat, semoga dapat menyempurnakan pengetahuan bagi para pembaca sekalian.
Malang, 03 November 2014
Penulis
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Budaya adalah suatu kebiasaan turun
menurun yang dilakukan oleh suatu warga setempat. Setiap daerah mempunyai
budaya masing-masing, yang tak lepas dari kebiasaan nenek moyang yang
lestarikan. Menjaga kebudayaan yang menurut para seniman dan budayawan zaman
sekarang agak susah, dikarenakan beberapa hal yang dilakukan sedikit melenceng
dari kebudayaan yang asli dari nenek moyang.
Kota Wisata Batu, yang dikenal
dengan banyak tempat pariwisata, mempunyai suatu budaya yang sangat digemari
oleh masyarakat, dan tetap dilestarikan. Walaupun budaya ini sempat hilang
sebelum tahun 2008, namun sekarang dikarenakan oleh seorang budayawan dan
seniman kota batu maka kebudayaan bantengan
ini mulai bangkit dan mengembangkan budayanya hingga luar jawa bahkan
mancanegara.
Setiap pertunjukan selalu terdapat
pembukaan, inti, kemudian penutup, tidak hanya pertunjukan dalam acara-acara
besar, namun bantengan juga mempunyai rangkaian acara yang sama dan mempunyai
ciri khusus yang tidak sama dengan pertunjukan yang lainnya. Oleh karena itu,
dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana rangkaian acara bantengan
berlangsung, mulai dari pembukaan, inti, hingga penutupan.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1
Ritual apa
yang dilakukan sebelum memulai pertunjukan bantengan?
1.2.2
Apa saja
rangkaian acara dalam pertunjukan bantengan?
1.2.3
Bagaimana
penutupan dalam pertunjukan bantengan?
1.3
Tujuan
Adapun
tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1
Agar
memahami ritual yang dilakukan sebelum pertunjukan bantengan.
1.3.2
Untuk
mengetahui rangkaian acara dan seluk beluk acara dalam pertunjukan bantengan.
1.3.3
Agar
memahami bagaimana proses penutupan pertunjukan bantengan.
BAB II
KAJIAN TEORI
KAJIAN TEORI
2.1 Teori
Kebudayaan
Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yaitu
bentuk jamak dari buddhi yang berarti
“budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan: “hal-hal yang
bersangkutan dengan akal”. Arti kata kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1990)
dalam Pengantar Ilmu Antropologi
adalah keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kebudayaan memiliki tiga wujud, yaitu:
1. Wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
2. Wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia
dalam masyarakat.
3. Wujud
kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Menurut Darsono (2004)
menawarkan tiga definisi yang sangat luas yaitu, antara lain:
1. Budaya
dapat digunakan untuk mengacu pada “suatu proses umum perkembangan intelektual,
spiritual, dan estetis.”
2. Budaya
bisa berarti “pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok
tertentu.
3. Budaya
bisa menunjuk pada “karya dan praktik-praktik intelektual,terutama aktivitas
artistic”.
Kebudayaan juga
didefinisikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan cara belajar (Koentjaraningrat, 2003:72). Kebudayaan atau kultur adalah
keseluruhan kompleks yang terbentuk didalam sejarah dan diteruskan dari masa ke
masa melalui tradisi yang mencakup organisasi, sosial, ekonomi, agama,
kepercayaan, kebiasaan, hukum, seni, teknik dan ilmu. Dengan demikian maka
budaya terbentuk melalui proses perjalanan waktu dalam sejarah yang berkembang
dari generasi ke generasi berikutnya.
Goodenough (dalam Kalangie, 1994)
mengemukakan, bahwa kebudayaan adalah suatu system kognitif, yaitu suatu sistem
yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan nilai yang berada dalam pikiran
anggota-anggota individual masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan berada
dalam tatanan kenyataan yang ideasional. Atau, kebudayaan merupakan perlengkapan
mental yang oleh anggotaanggota masyarakat dipergunakan dalam proses orientasi,
transaksi, pertemuan, perumusan, gagasan, penggolongan, dan penafsiran perilaku
sosial nyata dalam masyarakat mereka.
Menurut Koentjaraningrat (2002)
mengatakan, bahwa menurut ilmu antropologi kebudayaan adalah keseluruhan sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan millik diri manusia dengan belajar. Dia membagi kebudayaan atas
7 unsur: sistem religi, sistemorganisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan,
sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan peralatan bahasa dan
kesenian. Kesemua unsur budaya tersebut terwujud dalam bentuk sistem
budaya/adat-istiadat (kompleks budaya, tema budaya, gagasan), sistem sosial
(aktivitas sosial, kompleks sosial, pola sosial, tindakan), dan unsur-unsur
kebudayaan fisik (benda kebudayaan).
1.
Sistem Religi
Sistem religi meliputi kepercayaan,
nilai, pandangan hidup, komunikasi keagamaan dan upacara keagamaan. Definisi
kepercayaan mengacu kepada pendapat Fishbein dan Azjen (dalam Soekanto, 2007),
yang menyebutkan pengertian kepercayaan atau keyakinan dengan kata “belief”,
yang memiliki pengertian sebagai inti dari setiap perilaku manusia. Aspek
kepercayaan tersebut merupakan acuan bagi seseorang untuk menentukan persepsi
terhadap sesuatu objek. Kepercayaan membentuk pengalaman, baik pengalaman
pribadi maupun pengalaman sosial. Dalam penelitian ini dibatasi keyakinan yang
dianut atau menjadi pegangan pasangan usia subur dalam memilih metode KB IUD.
2.
Sistem Organisasi dan Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan atau organisasi
sosial yang meliputi: kekerabatan, organisasi politik, norma atau hukum,
perkawinan, kenegaraan, kesatuan hidup dan perkumpulan. Sistem organisasi
adalah bagian kebudayaan yang berisikan semua yang telah dipelajari yang
memungkinkan bagi manusia mengkoordinasikan perilakunya secara efektif dengan
tindakan-tindakan-tindakan orang lain.
3.
Sistem Pengetahuan
Spradlye (dalam Kalangie, 1994)
menyebutkan, bahwa pengetahuan budaya itu bukanlah sesuatu yang bisa kelihatan
secara nyata, melainkan tersembunyi dari pandangan, namun memainkan peranan
yang sangat penting bagi manusia dalam menentukan perilakunya. Pengetahuan
budaya yang diformulasikan dengan beragam ungkapan tradisional itu sekaligus
juga merupakan gambaran dari nilai - nilai budaya yang mereka hayati.
Nilai
budaya sebagaimana dikemukan oleh Koentjaraningrat (2002) adalah konsep-konsep
yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai
hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Dan suatu sistem
nilai budaya, yang sifatnya abstrak, biasanya berfungsi sebagai pedoman
tertinggi bagi kelakuan manusia.
4.
Sistem Mata Pencaharian Hidup
Sistem mata pencaharian hidup merupakan
produk dari manusia sebagai homo economicus yang mejadikan kehidupan
manusia terus meningkat. Dalam tingkat sebagai food gathering, kehidupan
manusia sama dengan hewan. Tetapi dalam tingkat food producing terjadi
kemajuan yang pesat. Setelah bercocok tanam, kemudian beternak yang
terus meningkat (rising demand) yang kadang-kadang serakah.
Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi meliputi jenis pekerjaan dan
penghasilan (Koentjaraningrat, 2002).
5.
Sistem Teknologi dan Peralatan
Teknologi dan peralatan kesehatan adalah
sarana prasarana yang diperlukan untuk tindakan pelayanan, meliputi:
ketersedian, keterjangkauan dan kualitas alat untuk memasang KB IUD.
6.
Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan
budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik
lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan
menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain.
Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah
laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan
segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi
menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai
alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk
mengadakan
integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah
untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni
(sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu
pengetahuan dan teknologi (Koentjaraningrat, 2002).
7.
Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan
(estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang
dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa
tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana
hingga perwujudan kesenian yang kompleks. Kesenian yang meliputi: seni
patung/pahat, seni rupa, seni gerak, lukis, gambar, rias, vocal, musik/seni
suara, bangunan, kesusastraan, dan drama (Koentjaraningrat, 2002).
Sehingga dapat diperoleh pengertian
mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan
dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,
sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat abstrak. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang bersifat nyata, misalnya
pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni,
dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu umat manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
2.2
Kebudayaan Jawa
Jawa (Java), atau sebutan lain Djawa
Dwipa atau Jawi adalah pulau yang terletak di tepi selatan kepulauan
Indonesia. Orang Jawa (Javanese) adalah orang yang memakai bahasa Jawa
sebagai bahasa ibu dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau
Jawa (Suseno, 2003:15).
Manusia Jawa adalah pendukung dan
penghayat kebudayaan Jawa. Orang Jawa tersebar di daerah asal kebudayaan Jawa,
Jawa Tengah dan Jawa Timur, di Cirebon Jawa Barat, di banyak kepulauan
Indonesia kini sampai Irian Barat setelah transmigrasi, di semenanjung
Malaysia, di Muangthai, Birma, dan Vietnam yang dibawa oleh Jepang sebagai romusha,
di Suriname, Kurasao, Kaledonia Baru sejak zaman penjajahan sebagai tenaga
perkebunan. Yang amat sedikit diketahui adalah orang Jawa yang ada di Afrika
Selatan, Sri Langka, dan Asia Tenggara.
Orang Jawa itu sendiri berpendapat bahwa
kebudayaan tidak merupakan sesuatu yang homogen. Mereka sadar akan adanya
keanekaragaman yang sifatnya regional, sepanjang daerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa ini sedikit banyak cocok dengan
daerah logat bahasa Jawa dan tampak juga dalam unsur-unsur seperti makanan,
upacara-upacara, rumah tangga, kesenian rakyat, dan seni suara
(Koentjaraningrat, 1994:25).
Oleh karena budaya yang tidak homogen
tadi, maka sifat tablat pendukungnya berbeda satu sama lain. Semua
mempunyai individualitas yang kuat, tidak ada yang khas ‘Jawa’. Ada yang polos,
dan ada yang berbelit-belit, ada yang halus, ada yang kasar, ada yang berterus
terang, ada yang malu-malu, ada yang bersikap seenaknya, dan ada yang bekerja
fanatik, serta ada yang tidak bertindak sendirian dan yang tidak banyak peduli
akan sikap kelompoknya (Suseno, 2003:31).
Mengingat kenyataan bahwa kebudayaan
Jawa tidak homogen dan sifat orang Jawa berbeda satu sama lain, maka watak dan
tingkah laku orang Jawa tidak dapat dipukul rata. Meskipun demikian, kiranya
patut dikemukakan sifat-sifat orang Jawa hingga sekarang masih banyak
dilestarikan, yakni sifat yang lebih umum namun tetap khas Jawa antara lain :
rukun, damai, hormat, ramah, tenggang rasa (tepa selira), dan keselarasan
(harmonis). Sifat-sifat ini membangkitkan kemampuan memahami perbedaan, tetapi
tetap berpegang pada pendapat dan pendiriannya sendiri tanpa menimbulkan suatu
ketegangan. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Sifat-sifat itulah sebagai
‘kiblat’ manusia Jawa mengenal asal usulnya di mana pun mereka berada.
Bagi orang Jawa ‘budaya’ bukanlah konsep
antropologi yang samar-samar, melainkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial
dan itu disadari benar. Hidup yang benar adalah hidup sebagai orang Jawa,
mengetahui dan memperlihatkan tingkah laku yang sopan, mengucapkan kata-kata
yang pantas, mempertahankan tatanan yang ada, manusia dan benda-benda berada di
tempat masing-masing yang teratur, dapat diramalkan, dan tanpa gangguan
(Mulder, 2005:42).
Kehidupan masyarakat Jawa tidak dapat
dilepaskan dari lingkungan tempat tinggalnya. Mereka akan selalu bergantung dan
berinteraksi dengan lingkungan hidupnya melalui serangkaian pengalaman dan
pengamatannya, baik secara langsung maupun tidak langsung serta disadari atau
tidak. Dari pengalaman hidup ini, kemudian diperoleh citra lingkungan hidupnya
yang memberikan petunjuk mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan demi
kebaikan hidupnya.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah
definisi tersebut bahwa kebudayaan Jawa adalah pancaran atau pengejawantahan
budi manusia Jawa yang merangkum kemauan, cita-citanya, idenya, maupun
semangatnya dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup
lahir batin.
BAB
III
HASIL
OBSERVASI
3.1
Pengertian Bantengan
Bantengan
berasal dari kata “Be-Banten” denagn pengartian “be” sebagai kerukunan dan
“banten” sebagai menyembelih. Bantengan menurut
istilah dapat diartikan dengan beban yang ringan, karena kerukunan.
Dalam
suatu kebudayaan terdapat beberapa unsur kebudayaaan yaitu : peralatan dan
perlengakapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi,
system kemasyarakatan,bahasa, kesenian, system pengetahuan, religi. Dari unsur
tersebut Bantengan pastilah masuk
dalam unsur kebudayaan kesenian. Kesenian bantengan merupakan kesenian komunal
yang melibatkan banyak orang didalam setiap pertunjukannya. Seperti halnya
sifat kehidupan hewan banteng, yaitu hidup berkelompok (koloni), kebudayaan bantengan ini membentuk perilaku
masyarakat yang menggelutinya untuk selalu hidup dalam keguyuban, gotong royong
dan menjunjung tinggi rasa persatuan kesatuan.
Seni
tradisional bantengan, merupakan sebuah seni pertunjukan budaya tradisi yang
menggabungkan unsur sendratari, olah kanurangan, music, dan syair (mantra) yang
sangat kental dengan nuansa magis. Pemain bantengan
yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap trance
yaitu tahapan pemain pemegang kepala bantengan
menjadi kesurupan arwah leluhur banteng (Dhanyangan).
Setiap grup bantengan minimal mempunyai
dua bantengan seperti halnnya satu
pasangan yaitu bantengan jantan dan
betina.
3.2
Sejarah Bantengan
Seperti
halnya di daerah lain di seluruh Nusantara, kesenian tradisional adalah salah
satu bentuk identitas dari daerah yang bersangkutan. Begitu juga halnya dengan
Bantengan, meskipun sampai sekarang belum ada kajian ilmiah yang menguatkan
tentang awalmula lahirnya seni tari Bantengan
ini. Namun yang pasti, Kesenian yang lahir dari basis ilmu silat ini hanya ada
di wilayah Malang raya, utamanya di Poncokusumo, Tumpang, dan Kota Batu. Tak
ketinggalan, kota di sekitar juga
mengenal budaya Bantengan, seperti Kediri, Probolinggo dan Pasuruan, namun
setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri.
Namun,
di tahun 2008, setelah Kota Batu
menjadi Kota mandiri mengukuhkan bahwa
seni tari Bantengan adalah kesenian yang berasal dari kota Batu. Sejak saat
itu, Bantengan mulai menggeliat, banyak
perkumpulan pemuda desa yang mendirikan kelompok Bantengan secara mandiri.
Bahkan di tahun 2010 (berlanjut hingga saat ini) Masyarakat Penggiat Budaya
Indonesia menggelar event International
Trance Carnival yang bekerjasama dengan Seni Pertunjukan Keliling In The
Art Island, yang menyertakan Bantengan
sebagai salah satu agenda yang dipentaskan.
3.3 Rangkaian
Acara dalam Bantengan
Setiap acara dalam bantengan terdapat pembukaan yang harus
dilakukan untuk meminta doa restu dan pamit, agar diberi kelancaran acara oleh
Allah SWT. Bantengan identik dengan pihak ketiga maka dalam pembukaan mulailah
mengeluarka mantra-mantra untuk pihak ketiga agar ikut serta.
Setelah menyelesaikan
matra-mantra dan doa, dimulailah pertunjukan yang diawali dengan pencak silat,
kemudian keluarlah banteng, macan serta monyet untuk menampilkan pertunjukan
mereka yang dibantu oleh pihak ketiga.
Saat penutup, para
pendekar mengucapkan terimakasih, dan memohon maaf atas kesalahan kepada para
penonton, dan leluhur dan tak lupa pihak ketiga dalam penutupan di kembalikan
ke tempatnya.
3.4
Ritual pembukaan
Dalam
ritual pembukaan bantengan tak lepas dari banyak instrumen, dan instrument
terpenting adalah bebauan kemenyan
atau dupa. Dan sesajianpun harus di
sediakan dalam acara pembukaan ini, namun tidak disyaratkan untuk memenuhi sesandhingan dengan sesajian daun
sirihpun pertunjukan dapat dilaksanakan. Hal tersebut tergantung kepercayaan
para pendekar masing-masing.
Mantra ataupun doa dalam bantengan
mempunyaiciri khas masing-masing bagi berbagai pemeluk agama. Untuk yang
beragama islam maka menggunakan mantra berbahasa arab, untuk agama kejawen maka
menggunakan bahasa jawa, dengan inti ”karena Allah semoga acara ini berjalan
lancar dan baik dan tidak ada kendala apapun”.
Tempat khusus untuk melakukan ritual pembukaan yang dijuluki
“pepundhen” yaitu tempat sesepuh dan leluhur, misalkan seseorang yang membuat
desa tersebut maka beliaulah sebagai leluhur dan sesepuh. Maka untuk ritual
pembukaan atau berpamitan, dianjurkan untuk berpamitan di tempat sesepuh di
semayamkan.
Gamelan merupakan alat musik yang wajib ada untuk pertunjukan,
tak lupa dengan jidor dan ketipung.
Sesaji
juga memiliki makna simbolis dan memiliki sifat mistis. Adapun dalam bantengan
terdapat bagian-bagian sesaji yang terkandung didalamnya :
-
Pisang setangkep :
merupakan sebuah symbol dari tingkah laku manusia
-
Kelapa : lengkap
-
Jambe soroh : yang
dalam kiroto boso adala “kesusu selak pingin eroh” yang digunakan untuk member
jamuan terhadap leluhur mereka karena semasa hidupnya mereka suka mengunyah
sirih
-
Dupo : berasal dari
kata usodo yang berarti obat, sedangkan apabila dilihat sesuai dengan
materialnya yakni pring berasal dari kendel ileng yang berarti bahwa setiap
manusia harus ingat dengan tuhan YME serta nenek moyang mereka yang berada dia
alam roh sunyi. Asap dupa atau kukus merupakan symbol dari kekuasaan dari Tuhan
(dilihat ari asapnya yang selalu terbang keatas). Serta mengungkapkan do’a yang
diinginkan.
-
Minyak wangi : atau
sesuatu yang berbau harum, namun terkadang dalam setiap sesaji terdapat sekar
tigan atau bunga tiga warna
-
Ndok : telur, sebagai
symbol tri tunggal (kulit, putih telur, dan kuning telur) dimana kulit mewakili
kehidupan di dunia, sedangkan putih telur alam (air, tanah, api, udara,
tumbuh-tumbuhan) dam kuning telur yang menempati. Memanfaatkan alam (hewan dan
manusia)
-
Badrek : fermentasi air
ketan hitam, yang berwarna hitam, menyimbolkan bahwa manusia seharusnya
melakukan sifat andhap-ashor seperti warna bayangan manusia
-
Do’a : merupakan
kalimat atau ucapan yang menyimbolkan harapan, tujuan serta keinginan kepada
tuhan YME
-
Duwik : uang, sebagai
bekal untuk roh-roh suci(pesangon) dialam roh sunyi
-
Petek ingkung : ayam
jantan, yang dimasak utuh sebagai symbol ayem atau kedamaian, serta sebagai
ucapan syukur kepada roh-roh suci yang diundang dan mengawal pagelaran seni
tradisional batengan/jaranan.
3.5
Pertunjukan Inti
Seperti
halnya pembukaan, di intipun tetap harus diiringi oleh musik gamelan, jidor dan
ketipung
Bantengan
tidaklah sama dengan reog yang mempunyai naskah drama yang tertata rapi. Namun bantengan
murni atraksi, tidak mempunyai unsur cerita.
Dalam
pertunjukan banteng kadang kala kita melihat ada binatang lain, seperti macan
dan monyet. Binatang-binatang ini mempunyai filosofi tersendiri, seperti halnya
banteng yang melambangkan kebijaksanaan yang berdasar dari rakyat, sedangkan
macan melambangkan angkara murka, dan monyet melambangkan iri dengki.
Dalam
pertunjukan banteng biasanya hanya terdapat atraksi yang dilakukan monyet memprovokasi
dan mengadu domba antara macan dan banteng, sehingga banteng dan macanpun
beradu sampai akhir pertunjukan dengan macam-macam gerakan gerakan sesuai pakem-pakem budaya bantengan sesuai daerah.
Bantengan
membutuhkan beberepa ornamen yaitu :
1.
Tanduk (banteng, kerbau, sapi, dll)
2.
Kepala banteng yang terbuat dari kayu ( waru, dadap,
miri, nangka, loh, kembang, dll)
3.
Mahkota Bantengan, berupa sulur wayangan dari
bahan kulit atau kertas
4.
Klontong (alat bunyi di leher)
5.
Keranjang penjalin, sebagai badan (pada daerah tertentu
hanya menggunakan kain hitam sebagai badan
penyambung kepala dan kaki belakang)
6.
Gongseng kaki
7.
Keluhan (tali kendali)
Dalam menjalankan pertunjukannya bantengan memerlukan
pelengkap
1. Dua
orang Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar)
2.
Pemain Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden. Minimal
1 (satu) orang pada setiap posisi
3.
Sesepuh, orang yang dituakan. Mempunyai kelebihan dalam
hal memanggil leluhur Banteng
4.
Dhanyangan yaitu leluhur bantengan
5.
Pamong dan pendekar pemimpin yang memegang kendali
kelompok dengan
6.
Minimal ada dua Macanan dan satu Monyetan sebagai peran
pengganggu bantengan.
3.6
Penutupan Dalam
Pertunjukan
Setelah dirasa cukup untuk memainkan banteng
tersebut acara yang terakhir yaitu penutupan. Penutupan ini ialah mengembalikan
makhluk halus tersebut. Menurut bapak Muslimin ada dua cara untuk mengembalikan makhluk halus tersebut dan
menyadarkan si pemain bantengan itu, jika menurut islam cukup dibacakan
syahadad tiga kali, sholawat tiga kali dan takbir tiga kali pada telinga pemain
banteng tersebut kemudian akan kembali seperti sedia kala. Jika menurut jawa
cukup dibacakan aksara jawa namun membacanya dari belakang dahulu. Intinya
acara penutupan tersebut merupakan bentuk terimakasih atas kedatangan yang di
undang, dan memohon maaf apabila ada kesalahan bagi yang mengundang atau yang
menonton bantengan tersebut. Berisi saran agar tidak kerasukan. Kemudian berdoa
pada Tuhan agar diberi keselamatan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisis
Dalam pertunjukkan bantengan
terdapat berbagai macam nilai-nilai yang terkandung didalamnya, terutama nilai
kebudayaan. Contohnya saja penggunaan sesajian,
kemenyan, dan dupa yang merupakan sebuah kebudayaan yang masih dipegang
teguh untuk dilakukan. Kebudayaan juga mencerminkan dari sebuah daerah dimana
bantengan tersebut berkembang.
Selain seni bantengan ada juga seni
religi yang terkandung, yaitu seperti halnya pembacaan do’a pada saat pembukaan
yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan menurut agama
masing-masing dan juga berpamitan kepada leluhur desa tempat diadakannya
pertunjukkan. Ada juga nilai mistis yaitu ketika seorang penonton yang bersiul
akan mengalami kerasukan setan karena konon katanya bersiul itu sama saja
melecehkan setan.
Ada juga nilai moral yang ada dalam
bantengan, yaitu sebelum dimasukkan pihak ketiga harus terlebih dahulu meminum
minuman semacam minuman keras, namun saat ini banyak disalahgunakan oleh pemuda
zaman sekarang.
4.2 Solusi
Pertunjukan
bantengan ini sendiri mempunyai batasan-batasan yang sering disebut pakem-pakem. Namun pada zaman sekarang
para pendekar muda sering halnya melanggar pakem
tersebut. Oleh karena itu solusi terbaik untuk menghindari penyalahgunaan
kebudayaan, haruslah ditanamkan rasa cinta dan kepemilikan terhadap budaya
tersebut. Agar tidak terjadi pelanggaran pakem-pakem yang telah ditentukan.
Untuk
mengobati masalah-masalah diatas, perlulah tindak lanjut terhadap penyalahgunaan
budaya oleh seniman dan budayawan yang mempunyai wewenang dan diberikan sangsi
agar penyalahgunaan tersebut tidak diulangi kembali. Dan setiap permasalahan
tersebut haruslah diselesaikan dengan baik-baik tanpa adanya pertengkaran atau
perselisihan. Maka untuk budayawan dan senima harus memberi nasehat kepada
pendekar-pendekar agar lebih mencintai budaya bantengan tersebut.
4.3 Pandangan
Islam
Bantengan
merupakan sebuah seni tradisi khas Jawa Timur yang mengandung unsur kesrupan (trance)
didalamnya, sebagai bukti bahwa hal ini merupakan hasil dari manifestasi
kepercayaan mereka mengenai hal-hal transcendental yang berada disekeliling mereka, seperti pada
Tuhan, roh-roh suci, arwah nenek moyang, dewa-dewi, roh penunggu tempat (danyang).
Dalam melakukan interaksi dengan hal trasendental disekeliling mereka, maka
digunakanlah sesaji sebagai symbol komunikasi serta sebagai symbol manifestasi
kepercayaan mereka. Hal ini dikarenakan sesaji merupakan sebuah salah satu
bentuk fisik dari symbol kepercayaan mereka. Selain itu, dalam kesenian tradisi
jawa, khususnya kesenian bantengan,
sesajen memiliki keterkaitan erat dengan prosesi trance atau kesurupan
(kalap).
Dalam
pandangan islam, ini menjadi salah satu yang sering kali banyak dipertanyakan
oleh orang banyak kerena pada ritual bantengan terdapat kesurupan (trance)
dimana roh-roh halus dipanggil untuk ditransfer kedalam tubuh manusia yang
memainkan bantengan. Ada sebagian yang mempercayai adanya hal seperti itu
namun tidak banyak juga yang tidak mempercayai adanya hal tersebut. Didalam
alam secara bebas ini terdapat alam ghaib yang dihuni oleh makhuk tak kasat
mata, misalnya saja, Jin atau setan yang pada umumnya keduanya tergolong
makhluk yang durhaka kepada Tuhan. Sebagaimana yang telah dijelaskan kedalam
al-Qur’an dalam surat Al-An’am (6) ayat 100 :
Kesimpulan
dari ayat tersebut adalah Manusia dan Jin diciptakan hanya untuk menyembah
Allah. Jin dan Manusia sama sama tidak tau akan hal yang gaib. Namun, manusia
diwajibkan untuk mempercayai adanya hal atau alam ghaib.
Pendapat
pertama mengatakan, Jika suatu hal yang dikerjakan dan didalamnya terdapat
kerjasama antara manusia dan jin merupakan musyrik. Karena ditinjau dari segi
pelaksanaannya, bahwa sesuatu hal yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah
adalah perbuatan yang bid’ah dan segala sesuatu yang bid’ah adalah dosa.
Sesuatu hal tidak dapat dibenarkan pelaksanaanya saat itu melanggar hokum
syari’at dan menggunakan kekuatan jin dan dijadikan sebagai ritual. Jika niat
kerjasama antara manusia dan jin adalah untuk menyekutuklan allah maka itu
merupakan hal yang musyrik dan itu hukumnya haram.
Pendapat
kedua mengatakan, bahwasanya memang menyekutukan allah merupakan perbuatan
syirik. Sebuah kesenian tidak dapat dihubungkan dengan ketuhanan. Didalam
kesenian bantengan memang terdapat
kerjasama antara manusia dan jin, namun, hal ini diartikan kerjasama yang
bagaimana dulu. Didalam kesenian ini yang dimaksudkan kerjasama antara manusia
dan jin adalah hanya untuk mengajak ikut bersama-sama dalam memeriahkan
permainan bantengan, itupun juga
dengan seizin Allah karena ketika pemanggilan roh juga dimasukkan do’a-do’a
yang islami. Dan juga ketika dalam rangkaian acara juga menyelipkan pesan-pesan
moral yang islami dan juga kesenian ini bisa dikatakan sebagai bentuk dakwah
yang melalui sebuah kesenian, seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Sunan
Kalijaga, beliau menysi’arkan agama islam melalui kesenian yakni Wayang. Jadi ketika dilakukan kerjasama antara manusia
dan jin tapi dengan niat ingin menunjukkan kebesaran allah dan memeperlihatkan
bahwasanya adanya alam ghaib itu benar adanya maka hukumnya itu diperbolehkan .
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
5.1.1
Ritual yang dilakukan sebelum memulai pertunjukkan bantengan sejatinya
ialah bertujuan meminta keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa, ritual pun
berbeda-beda tergantung kebiasaan pendekarnya. Pembukaan bantengan juga untuk
mengundang makhluk halus yang akan memainkan bantengan dengan cara merasuki dua
orang yang telah dipilih menjadi pemain banteng. Pembukaan bantengan dilakukan pada tiap bulan sesudah bulan Syawal.
5.1.2
Rangkaian acara dalam pertunjukan bantengan
adalah terdiri dari barisan pertama pembawa obor api disertai atraksi, barisan
kedua terdiri dari pertunjukkan pencak silat, bantengan, macanan, monyet,
besrta atraksi- atraksinya. Barisan ketiga ialah pemain musik yang terdiri dari
gamelan, gendang, ketipung, jidor atau beduk dan pengeras suara seperti sound.
5.1.3
Penutupan Bantengan dilakukan ketika menjelang bulan Ramadhan. Hal ini bertujuan untuk menghormati bulan yang mulia
dimaksudkan agar waga masyarakat memprioritaskan untuk beribadah ke pada Alloh
tidak semata hiburan saja. Sehingga pada bulan Ramadhan dan Syawal tidak boleh
memainkan bantengan. Ritual penutupan acara bantengan ialah mengakhiri
pertunjukan bantengan dengan mengembalikan makhluk halus ke tempat asalnya
dengan cara dibacakan syahadat 3x, sholawat 3x, takbir 3x jika secara islami.
Sedangkan sacara adat jawa dibacakan mantra aksara jawa yang dibaca dari
belakang. Membacanya ditelinga pemain bantengan tersebut dan para
pendekar mengucapkan terimakasih, dan memohon maaf atas kesalahan kepada para
penonton, dan leluhur.
5.2
Saran
Laporan observasi untuk
memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang bertemakan Budaya Bantengan
di Kota Batu ini dirasa masih perlu referensi lebih banyak lagi untuk
menguatkan hasil laporan ini, namun kendala yang dialami penulis ialah sulitnya
mencari referensi yang tertulis sebab beragamnya kebudayaan bantengan yang ada
di Malang. Namun, penulis telah berusaha menyajikan data yang sebenar-benarnya
sesuai dengan hasil observasi yang telah dilakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bapak Agus Rianto (Tubrun) sebagai Ketua Kesenian Budaya Bantengan Kota
Batu. Jum’at, 31 Oktober 2014. pukul: 13.00 - 14.00.
Bapak Muslimin sebagai pendekar Banteng Giras di Desa Poncokusumo Blok
Rabo RT:06/RW:06. Sabtu, 01 November 2014. Pukul 14.00 - 15.30.
Kalangie.
1994. Kebudayaan dan Kesehatan,
Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer Melalui Pendekatan Sosiobudaya. Jakarta : PT. KasaintBlanc Indah Corp.
Koentjaraningrat.
1994. Metode-Metode Penelitian Masyarakat.
Jakarta: Gramedia.
Koentrajaningrat.
1996. Pengantar Ilmu Antropologi Jilid 1.
Jakarta: Rineka Cipta
Koentrajaningrat.
2002. Pengantar Antropologi II. Jakarta:
Rineka Cipta.
Koentrajaningrat.
2003. Pengantar Antropologi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Magnis, Dr. France dan Suseno SJ. 2003. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang
Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wisadirana,
Darsono. 2004. Sosiologi Pedesaan. Universitas Muhammadiyah Malang
Press, Malang.

0 komentar:
Posting Komentar