Senin, 01 Desember 2014

Observasi Budaya Bantengan



BUDAYA BANTENGAN DI KOTA WISATA BATU

DosenPembimbing :
M. Anwar Fu’ady, S.Psi, MA.






Matematika C
DisusunOleh :
1.      M. Firman Ali           (11610065)
2.      KamaliaRizki R        (13610082)
3.      IzzaFarihah               (13610086)
4.      WahyuNurilFitria     (13610090)
5.      Wise Ahmad Sofia   (13610106)
6.      MiftahulJannah        (13610108)
7.      VinaMafaza              (13610110)
8.      Dian Nan Brylliant   (13610112)


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Zat yang memiliki seluruh ilmu pengetahuan dan yang telah meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Sholawat dan salam semoga di curahkan pada Nabi Muhammad SAW., yang telah memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat, bahkan sampai ke negeri China. Selesainya makalah ini merupakan salah satu bentuk karunia dan rahmat dari Allah SWT.
Terima kasih kepada Bapak M. Anwar Fuady, S.psi, MA., selaku dosen pembimbing pada mata kuliah Ilmu Sosisl dan Budaya Dasar. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosisl dan Budaya Dasar.
Adapaun dalam makalah ini membahas tentang Budaya Kesenian Bantengan di Kota Batu secara umum. Harapan penulis semoga membawa manfaat bagi kita semua. Tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, demikian juga dengan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah yang disusun ini masih memiliki banyak kekurangan. Karena makalah ini disusun dan diselesaikan berdasarkan kemampuan penulis. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian, yang tentunya merupakan masukan yang bersifat menbangun dan menyempurnakan makalah ini, demikan makalah ini dibuat, semoga dapat menyempurnakan pengetahuan bagi para pembaca sekalian.

Malang, 03 November 2014

Penulis               



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Budaya adalah suatu kebiasaan turun menurun yang dilakukan oleh suatu warga setempat. Setiap daerah mempunyai budaya masing-masing, yang tak lepas dari kebiasaan nenek moyang yang lestarikan. Menjaga kebudayaan yang menurut para seniman dan budayawan zaman sekarang agak susah, dikarenakan beberapa hal yang dilakukan sedikit melenceng dari kebudayaan yang asli dari nenek moyang.
Kota Wisata Batu, yang dikenal dengan banyak tempat pariwisata, mempunyai suatu budaya yang sangat digemari oleh masyarakat, dan tetap dilestarikan. Walaupun budaya ini sempat hilang sebelum tahun 2008, namun sekarang dikarenakan oleh seorang budayawan dan seniman kota batu maka kebudayaan bantengan ini mulai bangkit dan mengembangkan budayanya hingga luar jawa bahkan mancanegara.
Setiap pertunjukan selalu terdapat pembukaan, inti, kemudian penutup, tidak hanya pertunjukan dalam acara-acara besar, namun bantengan juga mempunyai rangkaian acara yang sama dan mempunyai ciri khusus yang tidak sama dengan pertunjukan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana rangkaian acara bantengan berlangsung, mulai dari pembukaan, inti, hingga penutupan.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1                       Ritual apa yang dilakukan sebelum memulai pertunjukan bantengan?
1.2.2                       Apa saja rangkaian acara dalam pertunjukan bantengan?
1.2.3                       Bagaimana penutupan dalam pertunjukan bantengan?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1                      Agar memahami ritual yang dilakukan sebelum pertunjukan bantengan.
1.3.2                      Untuk mengetahui rangkaian acara dan seluk beluk acara dalam pertunjukan bantengan.
1.3.3                      Agar memahami bagaimana proses penutupan pertunjukan bantengan.


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Teori Kebudayaan
            Kata “kebudayaan”  berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi  yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Arti kata kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1990) dalam Pengantar Ilmu Antropologi adalah keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan memiliki tiga wujud, yaitu:
1.      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
2.      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.      Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Menurut Darsono (2004) menawarkan tiga definisi yang sangat luas yaitu, antara lain:
1.      Budaya dapat digunakan untuk mengacu pada “suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis.”
2.      Budaya bisa berarti “pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu.
3.      Budaya bisa menunjuk pada “karya dan praktik-praktik intelektual,terutama aktivitas artistic”.
Kebudayaan juga didefinisikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar (Koentjaraningrat, 2003:72). Kebudayaan atau kultur adalah keseluruhan kompleks yang terbentuk didalam sejarah dan diteruskan dari masa ke masa melalui tradisi yang mencakup organisasi, sosial, ekonomi, agama, kepercayaan, kebiasaan, hukum, seni, teknik dan ilmu. Dengan demikian maka budaya terbentuk melalui proses perjalanan waktu dalam sejarah yang berkembang dari generasi ke generasi berikutnya.
Goodenough (dalam Kalangie, 1994) mengemukakan, bahwa kebudayaan adalah suatu system kognitif, yaitu suatu sistem yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan nilai yang berada dalam pikiran anggota-anggota individual masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan berada dalam tatanan kenyataan yang ideasional. Atau, kebudayaan merupakan perlengkapan mental yang oleh anggotaanggota masyarakat dipergunakan dalam proses orientasi, transaksi, pertemuan, perumusan, gagasan, penggolongan, dan penafsiran perilaku sosial nyata dalam masyarakat mereka.
Menurut Koentjaraningrat (2002) mengatakan, bahwa menurut ilmu antropologi kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan millik diri manusia dengan belajar. Dia membagi kebudayaan atas 7 unsur: sistem religi, sistemorganisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan peralatan bahasa dan kesenian. Kesemua unsur budaya tersebut terwujud dalam bentuk sistem budaya/adat-istiadat (kompleks budaya, tema budaya, gagasan), sistem sosial (aktivitas sosial, kompleks sosial, pola sosial, tindakan), dan unsur-unsur kebudayaan fisik (benda kebudayaan).
1. Sistem Religi
Sistem religi meliputi kepercayaan, nilai, pandangan hidup, komunikasi keagamaan dan upacara keagamaan. Definisi kepercayaan mengacu kepada pendapat Fishbein dan Azjen (dalam Soekanto, 2007), yang menyebutkan pengertian kepercayaan atau keyakinan dengan kata “belief”, yang memiliki pengertian sebagai inti dari setiap perilaku manusia. Aspek kepercayaan tersebut merupakan acuan bagi seseorang untuk menentukan persepsi terhadap sesuatu objek. Kepercayaan membentuk pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Dalam penelitian ini dibatasi keyakinan yang dianut atau menjadi pegangan pasangan usia subur dalam memilih metode KB IUD.
2. Sistem Organisasi dan Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi: kekerabatan, organisasi politik, norma atau hukum, perkawinan, kenegaraan, kesatuan hidup dan perkumpulan. Sistem organisasi adalah bagian kebudayaan yang berisikan semua yang telah dipelajari yang memungkinkan bagi manusia mengkoordinasikan perilakunya secara efektif dengan tindakan-tindakan-tindakan orang lain.
3. Sistem Pengetahuan
Spradlye (dalam Kalangie, 1994) menyebutkan, bahwa pengetahuan budaya itu bukanlah sesuatu yang bisa kelihatan secara nyata, melainkan tersembunyi dari pandangan, namun memainkan peranan yang sangat penting bagi manusia dalam menentukan perilakunya. Pengetahuan budaya yang diformulasikan dengan beragam ungkapan tradisional itu sekaligus juga merupakan gambaran dari nilai - nilai budaya yang mereka hayati.
            Nilai budaya sebagaimana dikemukan oleh Koentjaraningrat (2002) adalah konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Dan suatu sistem nilai budaya, yang sifatnya abstrak, biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
4. Sistem Mata Pencaharian Hidup
Sistem mata pencaharian hidup merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus yang mejadikan kehidupan manusia terus meningkat. Dalam tingkat sebagai food gathering, kehidupan manusia sama dengan hewan. Tetapi dalam tingkat food producing terjadi kemajuan yang pesat. Setelah bercocok tanam, kemudian beternak yang terus meningkat (rising demand) yang kadang-kadang serakah. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi meliputi jenis pekerjaan dan penghasilan (Koentjaraningrat, 2002).
5. Sistem Teknologi dan Peralatan
Teknologi dan peralatan kesehatan adalah sarana prasarana yang diperlukan untuk tindakan pelayanan, meliputi: ketersedian, keterjangkauan dan kualitas alat untuk memasang KB IUD.
6. Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk
mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi (Koentjaraningrat, 2002).
7. Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks. Kesenian yang meliputi: seni patung/pahat, seni rupa, seni gerak, lukis, gambar, rias, vocal, musik/seni suara, bangunan, kesusastraan, dan drama (Koentjaraningrat, 2002).
Sehingga dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu umat manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.2 Kebudayaan Jawa
Jawa (Java), atau sebutan lain Djawa Dwipa atau Jawi adalah pulau yang terletak di tepi selatan kepulauan Indonesia. Orang Jawa (Javanese) adalah orang yang memakai bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau Jawa (Suseno, 2003:15).
Manusia Jawa adalah pendukung dan penghayat kebudayaan Jawa. Orang Jawa tersebar di daerah asal kebudayaan Jawa, Jawa Tengah dan Jawa Timur, di Cirebon Jawa Barat, di banyak kepulauan Indonesia kini sampai Irian Barat setelah transmigrasi, di semenanjung Malaysia, di Muangthai, Birma, dan Vietnam yang dibawa oleh Jepang sebagai romusha, di Suriname, Kurasao, Kaledonia Baru sejak zaman penjajahan sebagai tenaga perkebunan. Yang amat sedikit diketahui adalah orang Jawa yang ada di Afrika Selatan, Sri Langka, dan Asia Tenggara.
Orang Jawa itu sendiri berpendapat bahwa kebudayaan tidak merupakan sesuatu yang homogen. Mereka sadar akan adanya keanekaragaman yang sifatnya regional, sepanjang daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa ini sedikit banyak cocok dengan daerah logat bahasa Jawa dan tampak juga dalam unsur-unsur seperti makanan, upacara-upacara, rumah tangga, kesenian rakyat, dan seni suara (Koentjaraningrat, 1994:25).
Oleh karena budaya yang tidak homogen tadi, maka sifat tablat pendukungnya berbeda satu sama lain. Semua mempunyai individualitas yang kuat, tidak ada yang khas ‘Jawa’. Ada yang polos, dan ada yang berbelit-belit, ada yang halus, ada yang kasar, ada yang berterus terang, ada yang malu-malu, ada yang bersikap seenaknya, dan ada yang bekerja fanatik, serta ada yang tidak bertindak sendirian dan yang tidak banyak peduli akan sikap kelompoknya (Suseno, 2003:31).
Mengingat kenyataan bahwa kebudayaan Jawa tidak homogen dan sifat orang Jawa berbeda satu sama lain, maka watak dan tingkah laku orang Jawa tidak dapat dipukul rata. Meskipun demikian, kiranya patut dikemukakan sifat-sifat orang Jawa hingga sekarang masih banyak dilestarikan, yakni sifat yang lebih umum namun tetap khas Jawa antara lain : rukun, damai, hormat, ramah, tenggang rasa (tepa selira), dan keselarasan (harmonis). Sifat-sifat ini membangkitkan kemampuan memahami perbedaan, tetapi tetap berpegang pada pendapat dan pendiriannya sendiri tanpa menimbulkan suatu ketegangan. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Sifat-sifat itulah sebagai ‘kiblat’ manusia Jawa mengenal asal usulnya di mana pun mereka berada.
Bagi orang Jawa ‘budaya’ bukanlah konsep antropologi yang samar-samar, melainkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan itu disadari benar. Hidup yang benar adalah hidup sebagai orang Jawa, mengetahui dan memperlihatkan tingkah laku yang sopan, mengucapkan kata-kata yang pantas, mempertahankan tatanan yang ada, manusia dan benda-benda berada di tempat masing-masing yang teratur, dapat diramalkan, dan tanpa gangguan (Mulder, 2005:42).
Kehidupan masyarakat Jawa tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat tinggalnya. Mereka akan selalu bergantung dan berinteraksi dengan lingkungan hidupnya melalui serangkaian pengalaman dan pengamatannya, baik secara langsung maupun tidak langsung serta disadari atau tidak. Dari pengalaman hidup ini, kemudian diperoleh citra lingkungan hidupnya yang memberikan petunjuk mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan demi kebaikan hidupnya.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah definisi tersebut bahwa kebudayaan Jawa adalah pancaran atau pengejawantahan budi manusia Jawa yang merangkum kemauan, cita-citanya, idenya, maupun semangatnya dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup lahir batin.


BAB III
HASIL OBSERVASI

3.1  Pengertian Bantengan
Bantengan berasal dari kata “Be-Banten” denagn pengartian “be” sebagai kerukunan dan “banten” sebagai menyembelih. Bantengan menurut istilah dapat diartikan dengan beban yang ringan, karena kerukunan.
Dalam suatu kebudayaan terdapat beberapa unsur kebudayaaan yaitu : peralatan dan perlengakapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, system kemasyarakatan,bahasa, kesenian, system pengetahuan, religi. Dari unsur tersebut Bantengan pastilah masuk dalam unsur kebudayaan kesenian. Kesenian bantengan merupakan kesenian komunal yang melibatkan banyak orang didalam setiap pertunjukannya. Seperti halnya sifat kehidupan hewan banteng, yaitu hidup berkelompok (koloni), kebudayaan bantengan ini membentuk perilaku masyarakat yang menggelutinya untuk selalu hidup dalam keguyuban, gotong royong dan menjunjung tinggi rasa persatuan kesatuan.
Seni tradisional bantengan, merupakan sebuah seni pertunjukan budaya tradisi yang menggabungkan unsur sendratari, olah kanurangan, music, dan syair (mantra) yang sangat kental dengan nuansa magis. Pemain bantengan yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap trance yaitu tahapan pemain pemegang kepala bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur banteng (Dhanyangan). Setiap grup bantengan minimal mempunyai dua bantengan seperti halnnya satu pasangan yaitu bantengan jantan dan betina.

3.2  Sejarah Bantengan
Seperti halnya di daerah lain di seluruh Nusantara, kesenian tradisional adalah salah satu bentuk identitas dari daerah yang bersangkutan. Begitu juga halnya dengan Bantengan, meskipun sampai sekarang belum ada kajian ilmiah yang menguatkan tentang awalmula lahirnya seni tari Bantengan ini. Namun yang pasti, Kesenian yang lahir dari basis ilmu silat ini hanya ada di wilayah Malang raya, utamanya di Poncokusumo, Tumpang, dan Kota Batu. Tak ketinggalan, kota di sekitar  juga mengenal budaya Bantengan, seperti Kediri, Probolinggo dan Pasuruan, namun setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri.
Namun, di  tahun 2008, setelah Kota Batu menjadi  Kota mandiri mengukuhkan bahwa seni tari Bantengan adalah kesenian yang berasal dari kota Batu. Sejak saat itu, Bantengan mulai menggeliat, banyak perkumpulan pemuda desa yang mendirikan kelompok Bantengan secara mandiri. Bahkan di tahun 2010 (berlanjut hingga saat ini) Masyarakat Penggiat Budaya Indonesia menggelar event International Trance Carnival yang bekerjasama dengan Seni Pertunjukan Keliling In The Art Island, yang menyertakan Bantengan sebagai salah satu agenda yang dipentaskan.

3.3  Rangkaian Acara dalam Bantengan
Setiap acara dalam bantengan terdapat pembukaan yang harus dilakukan untuk meminta doa restu dan pamit, agar diberi kelancaran acara oleh Allah SWT. Bantengan identik dengan pihak ketiga maka dalam pembukaan mulailah mengeluarka mantra-mantra untuk pihak ketiga agar ikut serta.
Setelah menyelesaikan matra-mantra dan doa, dimulailah pertunjukan yang diawali dengan pencak silat, kemudian keluarlah banteng, macan serta monyet untuk menampilkan pertunjukan mereka yang dibantu oleh pihak ketiga.
Saat penutup, para pendekar mengucapkan terimakasih, dan memohon maaf atas kesalahan kepada para penonton, dan leluhur dan tak lupa pihak ketiga dalam penutupan di kembalikan ke tempatnya.
3.4  Ritual pembukaan
       Dalam ritual pembukaan bantengan tak lepas dari banyak instrumen, dan instrument terpenting adalah bebauan kemenyan atau dupa. Dan sesajianpun harus di sediakan dalam acara pembukaan ini, namun tidak disyaratkan untuk memenuhi sesandhingan dengan sesajian daun sirihpun pertunjukan dapat dilaksanakan. Hal tersebut tergantung kepercayaan para pendekar masing-masing.
       Mantra ataupun doa dalam bantengan mempunyaiciri khas masing-masing bagi berbagai pemeluk agama. Untuk yang beragama islam maka menggunakan mantra berbahasa arab, untuk agama kejawen maka menggunakan bahasa jawa, dengan inti ”karena Allah semoga acara ini berjalan lancar dan baik dan tidak ada kendala apapun”.
       Tempat khusus untuk melakukan ritual pembukaan yang dijuluki “pepundhen” yaitu tempat sesepuh dan leluhur, misalkan seseorang yang membuat desa tersebut maka beliaulah sebagai leluhur dan sesepuh. Maka untuk ritual pembukaan atau berpamitan, dianjurkan untuk berpamitan di tempat sesepuh di semayamkan.
       Gamelan merupakan alat musik yang wajib ada untuk pertunjukan, tak lupa dengan jidor dan ketipung.
Sesaji juga memiliki makna simbolis dan memiliki sifat mistis. Adapun dalam bantengan terdapat bagian-bagian sesaji yang terkandung didalamnya :
-          Pisang setangkep : merupakan sebuah symbol dari tingkah laku manusia
-          Kelapa : lengkap
-          Jambe soroh : yang dalam kiroto boso adala “kesusu selak pingin eroh” yang digunakan untuk member jamuan terhadap leluhur mereka karena semasa hidupnya mereka suka mengunyah sirih
-          Dupo : berasal dari kata usodo yang berarti obat, sedangkan apabila dilihat sesuai dengan materialnya yakni pring berasal dari kendel ileng yang berarti bahwa setiap manusia harus ingat dengan tuhan YME serta nenek moyang mereka yang berada dia alam roh sunyi. Asap dupa atau kukus merupakan symbol dari kekuasaan dari Tuhan (dilihat ari asapnya yang selalu terbang keatas). Serta mengungkapkan do’a yang diinginkan.
-          Minyak wangi : atau sesuatu yang berbau harum, namun terkadang dalam setiap sesaji terdapat sekar tigan atau bunga tiga warna
-          Ndok : telur, sebagai symbol tri tunggal (kulit, putih telur, dan kuning telur) dimana kulit mewakili kehidupan di dunia, sedangkan putih telur alam (air, tanah, api, udara, tumbuh-tumbuhan) dam kuning telur yang menempati. Memanfaatkan alam (hewan dan manusia)
-          Badrek : fermentasi air ketan hitam, yang berwarna hitam, menyimbolkan bahwa manusia seharusnya melakukan sifat andhap-ashor seperti warna bayangan manusia
-          Do’a : merupakan kalimat atau ucapan yang menyimbolkan harapan, tujuan serta keinginan kepada tuhan YME
-          Duwik : uang, sebagai bekal untuk roh-roh suci(pesangon) dialam roh sunyi
-          Petek ingkung : ayam jantan, yang dimasak utuh sebagai symbol ayem atau kedamaian, serta sebagai ucapan syukur kepada roh-roh suci yang diundang dan mengawal pagelaran seni tradisional batengan/jaranan.

3.5  Pertunjukan Inti
Seperti halnya pembukaan, di intipun tetap harus diiringi oleh musik gamelan, jidor dan ketipung
Bantengan tidaklah sama dengan reog yang mempunyai naskah drama yang tertata rapi. Namun bantengan murni atraksi, tidak mempunyai unsur cerita.
Dalam pertunjukan banteng kadang kala kita melihat ada binatang lain, seperti macan dan monyet. Binatang-binatang ini mempunyai filosofi tersendiri, seperti halnya banteng yang melambangkan kebijaksanaan yang berdasar dari rakyat, sedangkan macan melambangkan angkara murka, dan monyet melambangkan iri dengki.
Dalam pertunjukan banteng biasanya hanya terdapat atraksi yang dilakukan monyet memprovokasi dan mengadu domba antara macan dan banteng, sehingga banteng dan macanpun beradu sampai akhir pertunjukan dengan macam-macam gerakan  gerakan sesuai pakem-pakem budaya bantengan sesuai daerah.
Bantengan membutuhkan beberepa ornamen yaitu :
1.              Tanduk  (banteng, kerbau, sapi, dll)
2.             Kepala banteng yang terbuat dari kayu ( waru, dadap, miri, nangka,  loh, kembang, dll)
3.              Mahkota Bantengan, berupa  sulur wayangan dari bahan kulit atau kertas
4.              Klontong  (alat bunyi di  leher)
5.             Keranjang penjalin, sebagai badan (pada daerah tertentu hanya  menggunakan  kain  hitam  sebagai   badan penyambung kepala dan kaki belakang)
6.              Gongseng kaki
7.              Keluhan  (tali kendali)
Dalam menjalankan pertunjukannya bantengan memerlukan pelengkap
1.  Dua orang Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar)
2.             Pemain Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden. Minimal 1 (satu) orang pada setiap posisi
3.             Sesepuh, orang yang dituakan. Mempunyai kelebihan dalam hal memanggil leluhur Banteng
4.             Dhanyangan yaitu leluhur bantengan
5.             Pamong dan pendekar pemimpin yang memegang kendali kelompok dengan
6.             Minimal ada dua Macanan dan satu Monyetan sebagai peran pengganggu bantengan.

3.6  Penutupan Dalam Pertunjukan
Setelah dirasa cukup untuk memainkan banteng tersebut acara yang terakhir yaitu penutupan. Penutupan ini ialah mengembalikan makhluk halus tersebut. Menurut bapak Muslimin ada dua cara untuk mengembalikan makhluk halus tersebut dan menyadarkan si pemain bantengan itu, jika menurut islam cukup dibacakan syahadad tiga kali, sholawat tiga kali dan takbir tiga kali pada telinga pemain banteng tersebut kemudian akan kembali seperti sedia kala. Jika menurut jawa cukup dibacakan aksara jawa namun membacanya dari belakang dahulu. Intinya acara penutupan tersebut merupakan bentuk terimakasih atas kedatangan yang di undang, dan memohon maaf apabila ada kesalahan bagi yang mengundang atau yang menonton bantengan tersebut. Berisi saran agar tidak kerasukan. Kemudian berdoa pada Tuhan agar diberi keselamatan.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1  Analisis
Dalam pertunjukkan bantengan terdapat berbagai macam nilai-nilai yang terkandung didalamnya, terutama nilai kebudayaan. Contohnya saja penggunaan sesajian, kemenyan, dan dupa yang merupakan sebuah kebudayaan yang masih dipegang teguh untuk dilakukan. Kebudayaan juga mencerminkan dari sebuah daerah dimana bantengan tersebut berkembang.
Selain seni bantengan ada juga seni religi yang terkandung, yaitu seperti halnya pembacaan do’a pada saat pembukaan yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan menurut agama masing-masing dan juga berpamitan kepada leluhur desa tempat diadakannya pertunjukkan. Ada juga nilai mistis yaitu ketika seorang penonton yang bersiul akan mengalami kerasukan setan karena konon katanya bersiul itu sama saja melecehkan setan.
Ada juga nilai moral yang ada dalam bantengan, yaitu sebelum dimasukkan pihak ketiga harus terlebih dahulu meminum minuman semacam minuman keras, namun saat ini banyak disalahgunakan oleh pemuda zaman sekarang.
4.2    Solusi
Pertunjukan bantengan ini sendiri mempunyai batasan-batasan yang sering disebut pakem-pakem. Namun pada zaman sekarang para pendekar muda sering halnya melanggar pakem tersebut. Oleh karena itu solusi terbaik untuk menghindari penyalahgunaan kebudayaan, haruslah ditanamkan rasa cinta dan kepemilikan terhadap budaya tersebut. Agar tidak terjadi pelanggaran pakem-pakem  yang telah ditentukan.
Untuk mengobati masalah-masalah diatas, perlulah tindak lanjut terhadap penyalahgunaan budaya oleh seniman dan budayawan yang mempunyai wewenang dan diberikan sangsi agar penyalahgunaan tersebut tidak diulangi kembali. Dan setiap permasalahan tersebut haruslah diselesaikan dengan baik-baik tanpa adanya pertengkaran atau perselisihan. Maka untuk budayawan dan senima harus memberi nasehat kepada pendekar-pendekar agar lebih mencintai budaya bantengan tersebut.

4.3    Pandangan Islam
Bantengan merupakan sebuah seni tradisi khas Jawa Timur yang mengandung unsur kesrupan (trance) didalamnya, sebagai bukti bahwa hal ini merupakan hasil dari manifestasi kepercayaan mereka mengenai hal-hal transcendental yang  berada disekeliling mereka, seperti pada Tuhan, roh-roh suci, arwah nenek moyang, dewa-dewi, roh penunggu tempat (danyang). Dalam melakukan interaksi dengan hal trasendental disekeliling mereka, maka digunakanlah sesaji sebagai symbol komunikasi serta sebagai symbol manifestasi kepercayaan mereka. Hal ini dikarenakan sesaji merupakan sebuah salah satu bentuk fisik dari symbol kepercayaan mereka. Selain itu, dalam kesenian tradisi jawa, khususnya kesenian bantengan, sesajen memiliki keterkaitan erat dengan prosesi trance atau kesurupan (kalap).
Dalam pandangan islam, ini menjadi salah satu yang sering kali banyak dipertanyakan oleh orang banyak kerena pada ritual bantengan terdapat kesurupan (trance) dimana roh-roh halus dipanggil untuk ditransfer kedalam tubuh manusia yang memainkan  bantengan. Ada sebagian yang mempercayai adanya hal seperti itu namun tidak banyak juga yang tidak mempercayai adanya hal tersebut. Didalam alam secara bebas ini terdapat alam ghaib yang dihuni oleh makhuk tak kasat mata, misalnya saja, Jin atau setan yang pada umumnya keduanya tergolong makhluk yang durhaka kepada Tuhan. Sebagaimana yang telah dijelaskan kedalam al-Qur’an dalam surat Al-An’am (6) ayat 100 :
             
Kesimpulan dari ayat tersebut adalah Manusia dan Jin diciptakan hanya untuk menyembah Allah. Jin dan Manusia sama sama tidak tau akan hal yang gaib. Namun, manusia diwajibkan untuk mempercayai adanya hal  atau alam ghaib.
Pendapat pertama mengatakan, Jika suatu hal yang dikerjakan dan didalamnya terdapat kerjasama antara manusia dan jin merupakan musyrik. Karena ditinjau dari segi pelaksanaannya, bahwa sesuatu hal yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah adalah perbuatan yang bid’ah dan segala sesuatu yang bid’ah adalah dosa. Sesuatu hal tidak dapat dibenarkan pelaksanaanya saat itu melanggar hokum syari’at dan menggunakan kekuatan jin dan dijadikan sebagai ritual. Jika niat kerjasama antara manusia dan jin adalah untuk menyekutuklan allah maka itu merupakan hal yang musyrik dan itu hukumnya haram.
Pendapat kedua mengatakan, bahwasanya memang menyekutukan allah merupakan perbuatan syirik. Sebuah kesenian tidak dapat dihubungkan dengan ketuhanan. Didalam kesenian bantengan memang terdapat kerjasama antara manusia dan jin, namun, hal ini diartikan kerjasama yang bagaimana dulu. Didalam kesenian ini yang dimaksudkan kerjasama antara manusia dan jin adalah hanya untuk mengajak ikut bersama-sama dalam memeriahkan permainan bantengan, itupun juga dengan seizin Allah karena ketika pemanggilan roh juga dimasukkan do’a-do’a yang islami. Dan juga ketika dalam rangkaian acara juga menyelipkan pesan-pesan moral yang islami dan juga kesenian ini bisa dikatakan sebagai bentuk dakwah yang melalui sebuah kesenian, seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, beliau menysi’arkan agama islam melalui kesenian yakni Wayang.  Jadi ketika dilakukan kerjasama antara manusia dan jin tapi dengan niat ingin menunjukkan kebesaran allah dan memeperlihatkan bahwasanya adanya alam ghaib itu benar adanya maka hukumnya itu diperbolehkan .


BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
5.1.1   Ritual yang dilakukan sebelum memulai pertunjukkan bantengan sejatinya ialah bertujuan meminta keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa, ritual pun berbeda-beda tergantung kebiasaan pendekarnya. Pembukaan bantengan juga untuk mengundang makhluk halus yang akan memainkan bantengan dengan cara merasuki dua orang yang telah dipilih menjadi pemain banteng. Pembukaan bantengan dilakukan pada tiap bulan sesudah bulan Syawal.
5.1.2      Rangkaian acara dalam pertunjukan bantengan adalah terdiri dari barisan pertama pembawa obor api disertai atraksi, barisan kedua terdiri dari pertunjukkan pencak silat, bantengan, macanan, monyet, besrta atraksi- atraksinya. Barisan ketiga ialah pemain musik yang terdiri dari gamelan, gendang, ketipung, jidor atau beduk dan pengeras suara seperti sound.
5.1.3        Penutupan Bantengan dilakukan ketika menjelang bulan Ramadhan. Hal ini bertujuan untuk menghormati bulan yang mulia dimaksudkan agar waga masyarakat memprioritaskan untuk beribadah ke pada Alloh tidak semata hiburan saja. Sehingga pada bulan Ramadhan dan Syawal tidak boleh memainkan bantengan. Ritual penutupan acara bantengan ialah mengakhiri pertunjukan bantengan dengan mengembalikan makhluk halus ke tempat asalnya dengan cara dibacakan syahadat 3x, sholawat 3x, takbir 3x jika secara islami. Sedangkan sacara adat jawa dibacakan mantra aksara jawa yang dibaca dari belakang. Membacanya ditelinga pemain bantengan tersebut dan para pendekar mengucapkan terimakasih, dan memohon maaf atas kesalahan kepada para penonton, dan leluhur.

5.2  Saran
Laporan observasi untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang bertemakan Budaya Bantengan di Kota Batu ini dirasa masih perlu referensi lebih banyak lagi untuk menguatkan hasil laporan ini, namun kendala yang dialami penulis ialah sulitnya mencari referensi yang tertulis sebab beragamnya kebudayaan bantengan yang ada di Malang. Namun, penulis telah berusaha menyajikan data yang sebenar-benarnya sesuai dengan hasil observasi yang telah dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Bapak Agus Rianto (Tubrun) sebagai Ketua Kesenian Budaya Bantengan Kota Batu. Jum’at, 31 Oktober 2014. pukul: 13.00 - 14.00.
Bapak Muslimin sebagai pendekar Banteng Giras di Desa Poncokusumo Blok Rabo RT:06/RW:06. Sabtu, 01 November 2014. Pukul 14.00 - 15.30.
Kalangie. 1994. Kebudayaan dan Kesehatan, Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer Melalui Pendekatan Sosiobudaya.  Jakarta : PT. KasaintBlanc Indah Corp.
Koentjaraningrat. 1994. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Koentrajaningrat. 1996. Pengantar Ilmu Antropologi Jilid 1. Jakarta: Rineka Cipta
Koentrajaningrat. 2002. Pengantar Antropologi II. Jakarta: Rineka Cipta.
Koentrajaningrat. 2003. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Magnis, Dr. France dan Suseno SJ. 2003. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wisadirana, Darsono. 2004. Sosiologi Pedesaan. Universitas Muhammadiyah Malang Press, Malang.

0 komentar:

Posting Komentar